Home / Daerah / Batam / Zaman Keemasan Kota Batam (Gerbang Wisata dan Niaga)

Zaman Keemasan Kota Batam (Gerbang Wisata dan Niaga)

HANGTUAHNEWS.CO.ID, Batam – Batam mengalami transformasi berpenduduk sekitar 6.000 jiwa menjadi lebih 800.000 jiwa pada saat ini, dari sebuah pulau tanpa investasi menjadi pulau menarik dan padat investasi.

Pulau Batam bagaikan anak ajaib yang tumbuh pesat Meraksasa, pulau pada tahun 1960-an baru dikenal dalam cerita sejarah lokal, pada tahun 1970-an, setelah dikembangkan dan statusnya berubah menjadi daerah bebas, seketika itu mendadak mendunia namanya. Hampir semua pengusaha mengenal Batam, pulau ini terus tumbuh bak bola salju yang  menggelinding dan membesar hanya dalam kurun waktu 40 tahun (1970-2009).

Ketika pemerintah pusat menetapkan pulau Batam mejadi daerah industri, daerah bebas bea cukai dan mendirikan kantor otorita Batam atau BIDA ( Batam Industrial Development Authority) pada  tahun 1972, pertumbuhan makin pesat. Kini Batam menjadi kota industri dan bisnis, menjadi pusat pertumbuhan, bukan hanya bagi Kepulauan Riau, tetapi juga bagi Indonesia.

Kota Batam yang luas wilayahnya menjadi 1.647.83 km² (wilayah daratan 612,53 km² ), laut berhadapan dengan Singapura dan daratan berhadapan dengan Asia (Johor, Malaysia) sejauh 20 mil atau 25 menit memakai kapal ferry. Batam kini diperluas dengan menghubungkan pulau-pulau sekitarnya, enam buah jembatan yang kokoh terhubung dengan tujuh pulau disekitarnya, otomatis pulau tersebut terhubung menjadi satu dan dapat lebih mudah menjangkaunya dengan naik kendaraan yang hanya dalam hitungan menit.

“Batam awalnya dirancang sebagai kota karena kedekatanya dengan negara tetangga.”, kata Walikota Batam pada masa itu (Ahmad Dahlan). Menurut  penuturan Walikota “Batam tidak memiliki sumber daya alam, namun karena faktor lokasi yang sangat strategis dan berada pada jalur pelayaran internasional, maka setiap harinya sekitar 300 kapal domestik maupun kapal internasional melewati perairan Batam, kota ini kemudian berkembang menjadi kota perdagangan, industri, jasa, trans-shipment(alih-kapal), serta pariwisata. Ketika pada tahun 1984 statusnya ditingkatkan menjadi  kota otonom (Kota Madya), Batam maju pesat, disatu sisi sektor industri berkembang, disisi lain pertumbuhan penduduk tak terkendali.

Pada tahun itu pertumbuhan ekonomi meningkat 7 % untuk skala nasional, pertumbuhan investasi juga naik tajam hinga Tahun 2008. Jumlah perusahaan dengan Penanaman Modal Asing (PMA) yang menanamkan modalnya di Batam tercatat 1.118 perusahaan (termasuk perusahaan modal dalam negri/PMDN). Sedangkan di Bintan tercatat 118 perusahan, Tanjung Pinang 51 perusahaan, Karimun 27 perusahaan, Natuna 12 perusahaan dan Lingga 1 perusahaan.

Menurut penuturan Walikota pada masa itu (Ahmad Dahlan), berkembangnya Batam di awali oleh industri elektronika, lalu industri shipyard (perkapalan), apalagi setelah diberlakukan FTZ (Free Trade Zone) di Batam, Bintan, dan Karimun.

Baca Juga  Jalan jalan Batam #1 - Mencari Ketenangan Di Pantai Dangas

Dengan dukungan pemerintah memberikan kemudahan investasi, dengan berlakunya FTZ dan dicabutnya PP nomor 63,  Walikota Batam berharap agar Batam kembali menjadi daerah yang bebas bea masuk.

Menurut keterangan Walikota pada masa itu (Ahmad Dahlan), barang-barang yang bebas bea masuk adalah barang yang setengah jadi yang akan diolah di kawasan industri Batam, setelah itu baru di kirim kembali ke negara asalnya. Bila barang tersebut akan didistribusikan keluar area Batam akan dikenakan pajak.

Pertumbuhan perekonomian di Batam maju pesat dibanding dengan laju pertumbuhan ekonomi nasional (pada masa itu), sehinga Batam menjadi andalan dan pemacu pertumbuhan ekonomi nasional maupun Provinsi Kepulauan Riau.

Laju pertumbuhan ekonomi kota Batam per sektor tahun 2007 didominasi oleh industri pengolahan sebesar 63,41%, sedangkan sektor lain seperti jasa perusahaan, pariwisata, tranportasi mencapai 20,46%, pada sektor keuangan, penyewaan dan jasa-jasa perusahaan besar tumbuh  antara 7,72 % hingga mencapai 8,03 %. Sedangkan pendapatan regional perkapita berdasarkan harga berlaku mencapai 33,83 dan berdasarkan harga konstan pada tahun 2007 mencapai 24,54 juta.

Peduduk kota Batam menurut Walikota pada masa itu (Ahmad Dahlan) tercatat 800.000 jiwa dan memiliki tingkat pertumbuhan yang cukup tinggi, mereka umumnya pendatang dan pencari kerja,hanya sekitar 20% saja penduduk asli Batam yang lahir dan dibesarkan di Batam selebihnya kaum pendatang.

Tingkat pertumbuhan yang tinggi  mulai menimbulkan masalah baru, mulai keterbatasan lahan, persedian air minum, listrik dan lain-lain. Persedian air bersih mulai diperhatikan serius oleh Pemko Batam.

Laju pertumbuhan penduduk memacu peningkatan di sektor-sektor lainya seperti, infrastuktur jalan, pelabuhan, perumahan, sekolah, dll.

Menurut Walikota, pada tahun 2008 Pemko Batam harus menyediakan 15 ribu bangku sekolah dari tingkat SD, SMP, SMA padahal pada tahun sebelumnya (2007), pemerintah menyediakan bangku sekolah sebanyak 13 ribu, pada tahun 2009  Pemko Batam menyediakan 17 ribu bangku sekolah untuk anak didik.

Batam mulai dikenal sebagai pulau dengan julukan Digital Island sebagaimana yang pernah digagas oleh pemerintah kota Batam dengan Digital Island, Batam akan kembangkan penerapan teknologi digital melalui aplikasi berbagai produk teknologi informasi, tujannya adalah untuk efisiensi pelayanan publik, peningkatan kinerja instansi pemerintah kota maupun swasta dalam melayani masyarakat.

Apakah untuk sekarang ini Batam bisa menerapkan dan mengulang masa kejayaan?? (iw)

 

About admin

Lihat Juga

BPJS Ketenagakerjaan Job Fair Diikuti 30 Perusahaan Peserta

HANGTUAHNEWS.CO.ID, Batam – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan menggelar Job Fair atau Bursa Kerja di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *