Home / Daerah / Tanjung Balai Karimun / Wisata Sejarah: Menelusuri Makam Badang di Pulau Buru

Wisata Sejarah: Menelusuri Makam Badang di Pulau Buru

HANGTUAHNEWS.CO.ID, Karimun – Setidaknya membutuhkan perjuangan yang ekstra untuk dapat menemukan tempat – tempat wisata yang belum terekspos ke publik. Apalagi letak lokasinya yang sulit dijangkau oleh transportasi. Akan tetapi hal tersebut tidak akan menjadi sesuatu yang mustahil untuk menemukannya, apalagi tempat tersebut mempunyai nilai atau yang berhubungan dengan sejarah suatu tempat/wilayah/daerah.

Di Kabupaten Karimun yang termasuk Wilayah Kepulauan Riau, mempunyai beberapa tempat yang dapat dijadikan sebagai rujukan untuk dijadikan sebagai objek wisata andalan. Salah satu tempat yang dapat dijadikan anadalan obyek wisata yang berhubungan dengan sejarah bertempat di Pulau Buru. Disana dapat dijumpai makam para raja – raja terdahulu yang diprediksi sebagai orang yang pertama kali tinggal di Pulau Bulu, Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau.

Adalah makam Si Badang, sebuah makam yang diyakini oleh masyarakat setempat sebagai tempat peristirahatan terakhir seorang hulubalang dari kerajaan Lingga yang bernama Badang. Makam Badang termasuk makam yang banyak diziarahi oleh orang, baik diziarahi oleh masyarakat lokal maupun dari negeri tetangga Singapura dan juga Malaysia.

Makam Badang terletak di tengah – tengah hutan karet yang hanya dapat diakses melalui jalan setapak. Jika ingin ke Makam Badang tersebut, sebaiknya menyewa motor atau menggunakan jasa ojek agar bisa diantar sampai kesana. Perjalanan ke Makam Badang dari kota Buru akan memakan waktu kurang lebihnya 30 menit dengan mengendarai kendaraan bermotor.

Makam Badang di pulau Buru, di kabupaten Tanjung Balai Karimun, provinsi Kepulauan Riau ini sudah termasuk sebagai situs cagar budaya. Pemerintah Kabupaten Karimun telah membuatkan bangunan untuk Makam Badang. Bangunan tersebut memiliki ukuran yang tidak beegitu luas, yaitu 30×30 meter persegi, dihiasi dengan cat warna kuning yang mencirikan ke-khas-an warna yang sering digunakan oleh orang melayu. Terdapat pohon – pohon gaharu yang mengelilingi makam sehingga pengunjung tidak merasa panas saat berada di makam Badang.

Baca Juga  Jalan jalan Batam #1 - Mencari Ketenangan Di Pantai Dangas

Didepan bangunan makam Badang, oleh Pemerintah Kabupaten Karimun juga dibangun sebuah gapura kecil bertuliskan “Situs Cagar Budaya Makam Badang Pulau Buru”. Pada hari – hari biasa, masyarakat sekitar makam Badang datang ke makam tersebut untuk membersihkan makam dari sampah – sampah dedaunan kering.

Berdasarkan cerita yang dituturkan secara turun temurun oleh masyarakat setempat, dahulunya Badang hanyalah seorang nelayan biasa saja yang sering menangkap ikan dengan menggunakan lukah. Lukah adalah merupakan alat untuk menangkap ikan yang terbuat dari bambu. Suatu hari, Badang mendapatkan sebuah ilmu dari makhluk hitam yang ia temui. Makhluk hitam tersebut mewariskan ilmunya setelah dikalahkan oleh Badang dengan bertempur dahulu saat mahkluk tersebut ingin mengambil hasil tangkapan ikan yang didapat Badang saat itu.

Selanjutnya karena mempunyai kekuatan, Badang mengikuti berbagai sayembara hingga akhirnya Badang diangkat menjadi Panglima Raja. Bajang terkenal sebagai orang terkuat di Pulau Buru. Sebagai penghormatan, setelah wafat Badang kemudian dimakamkan di Pulau Buru, tepatnya di Kelurahan Lubuk Puding, tempat dari mana Badang berasal.

Akan ada hal yang unik ketika berkunjung ziarah ke Makam Badang. Keunikannya adalah keberadaan sebuah tongkat di atas pusara makam Badang yang ketika kita mengukurnya akan selalu mendapatkan hasil yang berbeda antara ukuran pertama dan ukuran yang kedua. Diyakini oleh masyarakat setempat, apabila pengukuran kedua lebih panjang, peziarah akan mendapatkan berkah rejeki yang berlimpah ataupun umur yang panjang. Setiap orang yang berziarah ke makam tersebut mencoba untuk membuktikan kebenarannya dan selalu mendapatkan hasil yang berbeda. Namun demikian, masyarakat setempat tetap menekankan bahwa keyakinan tersebut harus tetap diserahkan kepada Tuhan, bukanlah makam tersebut agar tidak dijadikan sebagai cara syirik.

Jika dilihat dari ukurannya, makam Badang tergolong lebih panjang yaitu kurang lebih dua kali rentangan orang dewasa. Ukurannya lebih panjang dibandingkan dengan ukuran tubuh orang saat ini. (sj/wvi/sw)

About Sri Wahyudi

Freelancer, Jurnalis, Editor dan Grafis Designer di Hang Tuah News dan Hang Tuah Pos.

Lihat Juga

Perwakilan Kepri Mendapat Penghargaan di AKBN

HANGTUAHNEWS.CO.ID,  Bintan – Sanggar Seni Sang Nila Utama Kabupaten Bintan mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *