Home / Karya / Tulisan Anak Bangsa

Tulisan Anak Bangsa

Mentari yang datang meninggalkan malam, menyinari pagi di sekolahku. Untuk mulai meraih masa depanku, di sekolah ini. Kata mereka aku orang yang beruntung. Ya, katanya kita semua orang yang beruntung. Di sekolah ini, kita bisa belajar. Di sekolah ini, kita bisa bermain. Di sekolah ini, kita punya banyak teman. Ada yang baik, ada yang jahil, ada yang rajin, ada yang pemalas, ada yang pendek, gemuk, juga ada yang kurus dan tinggi. Berkulit putih, sampai berkulit hitam. Kita bisa merasakan adanya persatuan di dalam perbedaan, kekurangan yang saling melengkapi. Kita bisa memahami kesamaan hak dan kewajiban. Karena di sekolah ini, ada guru yang membimbing kita, ada buku yang jadi pemandu kita. Sehingga hilanglah kebodohan kita dan tampaklah cahaya yang akan menerangi jalan kita hingga sampai kepada apa yang kita cita-citakan.

Sabtu pagi di sekolah ku, ku lihat keceriaan di wajah teman-temanku. Kalian tahu kenapa? Bukan. Bukan karena hari ini guru-gurunya tidak ada yang masuk, sehingga tidak belajar. Atau karena hari ini ada acara makan-makan? Itu juga bukan. Coba kalian lihat! Mereka sedang bermain. Ya, mereka sedang bermain. Pasti mereka sedang mengikuti pelajaran olahraga! Hem…, ya. Tapi lebih tepatnya mereka sedang melakukan kegiatan pengembangan diri. Khusus hari sabtu, di sekolahku ada kegiatan pengembangan diri. Mereka bebas memilih pengembangan diri sesuai dengan hobi dan bakatnya. Ada yang memilih permainan olahraga, seperti bola kaki, basket, voly, dan bola takraw. Atau di bidang pelajaran, seperti english club, sains, agama, bahasa, dan lain-lain.

Jadi, hari ini di lapangan penuh dengan anak-anak yang sedang bermain. Ada yang bermain bola kaki, ada yang bermain bola basket, voly, dan ada juga yang bermain bola takraw. Sedangkan di dalam kelas, sebagian ada yang kosong dan ada juga yang di gunakan untuk pengembangan diri di bidangnya, sepeti english club, sains, agama, bahasa, dan lain-lain. Juga ada pengembangan diri tari dan catur. Tampak di kantor guru beberapa anak sedang bermain catur.

Bagaimana dengan aku, apa yang sedang aku lakukan? Sekarang aku berada di halaman teras depan kantor sekolah. Hari ini adalah hari pertama aku mengikuti pengembangan diri untuk menjadi seorang penulis. Meskipun sebenarnya aku belum tahu, apakah aku berbakat untuk menjadi seorang penulis atau tidak. Tapi aku sudah menciptakan banyak puisi yang tak kalah bagusnya dengan puisi Khairil Anwar. Film Laskar Pelangi yang ku tonton beberapa waktu lalu, mendorongku untuk dapat membuat cerita sebagus cerita Laskar Pelangi. Ya, aku ingin menjadi pembuat novel dan penulis terkenal.

Dibimbing oleh empat guru dari FLP (Forum Lingkar Pena) Batam, kami mencoba membuat karya tulis. Menulis apa yang kami lihat. Inilah tulisan yang aku buat dengan judul, “Tulisan Tanpa Judul”.

Tulisan Tanpa Judul

Ku lihat tiang bendera di depan ku. Kuperhatikan dari bawah tiang sampai ke puncaknya. Seperti aku memperhatikan seorang wanita di depanku, mulai dari kaki hingga ke ujung rambut. Kulihat kukunya begitu indah. Betisnya pun indah. Sedikit ku naikkan mataku melihat pinggulnya, begitu seksi. Tapi aku kecewa. Setelah ku pandang wajahnya, bukannya tak cantik, tapi rambutnya tak ada alias botak. Begitu juga dengan tiang bendera itu, tak ada benderanya. Apalah artinya tiang tanpa bendera. Padahal, negara kita sudah merdeka. Apa kata dunia?

Di atas rerumputan hijau yang tak bergoyang walau di tiup angin. Ia enggan atau karena…, begitulah yang di katakannya.

Aku masih bingung, entah apa lagi yang harus ku tulis. Ku pikir, tak ada lagi hal menarik yang bisa aku tulis. Atau karena aku belum bisa menjabarkan apa yang aku lihat. Andai saja ada seorang wanita cantik di depanku, mungkin aku bisa menjabarkan setiap keindahan yang ada padanya. Mungkin seperti ini, “Hey, gadis.Rambutmu bagai malam penuh bintang. Wajahmu bagai rembulan yang bersinar. Setiap lekuk tubuhmu menghadirkan keanggunan. Di dalam dadamu, ada hati yang ingin ku curi “. Andai kau benar benar ada di depanku. Andai, oh andai.

Kemudian ku perhatikan taman yang ada di sekolahku, yang ada di depan kantor, yang ada di bawah pohon rindang, yang tak jauh dari pandangan mataku. Taman yang tak begitu indah, tapi hijau seperti taman surga. Bunga bunga bermekaran. Di antara taman itu ada satu bunga yang paling indah yang pernah kulihat dan belum ku kenal, bunga seperti apa dia? Tapi dari harumnya yang begitu kurasakan, aku tahu itu adalah salah satu dari bunga bunga cinta.

Sejenak ku hentikan tanganku untuk menulis, dan aku berkata dalam hatiku, “Satria, tak perlu kau pikirkan tentang cinta. Cinta itu buta, buta itu gelap, gelap itu indah, indah itu emas, emas itu kuning, dan kuning itu taik, jadi cinta itu taik. Maka, tak perlulah kau pikirkan tentang cinta“. Kupikir-pikir pula, “Tapi aku tak mau menulis kalau tidak ada bahasa cintanya. Sebab ku ingat, bahasa adalah warna bangsa, keindahannya menumbuhkan cinta. Kalau di dalam tulisanku ada bahasa cintanya, mungkin setiap orang yang membaca tulisanku akan merasakan indahnya cinta, betapa anggun dan mulianya sehingga seekor burung mencarikan makanan untuk anaknya. Kalau kau mengerti arti cinta sesungguhnya“.

Aku tersentak kaget, tersadar dari lamunanku ketika seorang teman menegurku. Ternyata sudah waktunya kembali ke kelas, dan ku akhiri tulisanku untuk hari ini. (sb)

About Satria Batamiharja

Lihat Juga

Tujuh Kaligrafi Batam Lolos ke Final MTQ VII Kepri 2018

HANGTUAHNEWS.CO.ID, Batam – Seluruh kaligrafi dari kafilah Kota Batam yang berjumlah tujuh kaligrafi, lolos menuju final …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *