Home / Daerah / Batam / Tahun 2018 Tidak Ada Pengadaan Buku di Perpustakaan Batam
Suasana Ruang Baca di Perpustakaan Kota Batam

Tahun 2018 Tidak Ada Pengadaan Buku di Perpustakaan Batam

HANGTUAHNEWS.CO.ID, Batam – Pengadaan buku di Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Batam diduga akan ditiadakan tahun ini. Anggaran Rp 93 juta yang seharusnya digunakan untuk pengadaan buku ternyata tidak ada karena kondisi keuangan Batam defisit. Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Aunar Karimsu membantah adanya peniadaan pengadaan buku tahun ini. Menurutnya, engadaan buku hanya ditunda dari waktu yang semestinya.

“Bukan ditiadakan, hanya ditunda dari jadwal yang seharusnya,” terang Aunar, Senin (22/1).

Dijelaskannya, pengadaan buku diajukan pada APBD 2018, namun karena kebijakan bagian keuangan, maka pengadaan buku pun ditunda. Kemungkinan ditunda pun belum pasti, tergantung dari anggaran APBD-P nantinya.

“Kalau tidak ditunda, pengadaan sekitar semester ke 2 atau bulan Juni. Jadi karena ada penundaan kemungkinan pengadaan baru bisa di bulan 9, tergantung APBD-P nantinya,” jelas Aunar lagi.

Pengadaan buku untuk Pemko Batam dirasa cukup penting, mengingat jumlah buku yang tersedia di Pemko masih minim. Apalagi, buku yang tersedia sudah cukup berumur. Karena itu tahun ini Dinas Pengarsipan dan Perpusataakn Pemko Batam menganggarkan pengadaan buku baru. Namun sayangnya, harus tertunda karena tak ada anggaran.

“Jenis buku yang dianggarkan normatif, tergantung katalog penerbit. Saat ini buku yang tersedia 27 ribu dan itu sangat kurang untuk perpustakaan,” rinci Aunar.

Menurutnya, dalam buku lintang juga sudah ada bintang untuk pengadaan buku. Yang artinya, pengadaan buku ditunda karena keuangan belum mencukupi.

“Di buku lintang semuanya ada, transparan. Anggarannya berapa dan pengadaan untuk apa saja,” pungkas Aunar.

“Dari mulai kantor sampai sekarang dinas anggarannya tak pernah berubah. Sangat minim dan tidak sebanding dengan jumlah kebutuhan buku masyarakat Batam,” komen anggota Komisi I DPRD Batam, Sukaryo, Senin (22/1).

Menurut dia, minimnya anggaran pengadaan buku tersebut sangat menghambat kemajuan di bidang pendidikan khususnya dalam meningkatkan minat baca masyarakat. “Bagaimana mungkin masyarakat bisa cerdas, sementara pengadaan buku untuk merangsang minat baca penduduk yang saat ini masih sangat rendah,” sesal Sukaryo.

Seharusnya pemerintah daerah lebih peka terhadap peningkatan minat baca masyarakat. Perpustakaan sebagai wujud peradaban intelektual generasi bangsa perlu didukung dengan sarana perpustakaan sebagai gudang ilmu.

“Jangankan pengadaan buku, gedung pustaka saja sampai saat ini kita belum punya. Masih sebatas menumpang di gedung pemko. Ini yang selalu kami pertanyakan pada saat pembahasan anggaran,” sebut dia.

Padahal, kata dia, pada saat RPJMD walikota Ahmad Dahlan dulu, sudah dimasukan agar Batam memiliki gedung perpustakaan sendiri. Namun seiring perjalanan waktu pembangunan gedung perpustakaan ini dibatalkan sepihak oleh pemko Batam. Namun di RPJMD Wali Kota Rudi pengadaan gedung ini tak dimunculkan secara tegas.

“Makanya tak mengherankan anak-anak kita lebih suka ke warnet daripada membaca di perpustakaan. Karena memang peran pemerintah menumbuhkembangkan anak-anak usia dini untuk membaca memang tidak ada,” sesalnya.

Anggota Komisi I DPRD Batam, Musofa mengakui jika anggaran dinas arsip dan perpustakaan kota Batam paling kecil dibanding dinas lainnya. “Hal ini seakan-akan kita mengabaikan minat baca generasi muda. Dulu kita niat punya gedung pustaka juga ditolak dan sekarang gedung tak punya anggarannya sangat minim,” kata dia.

Diakui Musofa, pemerintah hanya sebatas mengejar pembangunan infrastruktur tapi menyiapkan SDM yang gemar membaca dikesampingkan.

“Hampir tiga tahun terakhir ini anggaran dinas ini minim, hanya Rp 1 miliaran. Bayangkan sekelas dinas anggarannya segitu. Mana cukup untuk menangani arsip dan perpustakaan,” sesalnya.

DPRD Batam sendiri, sebut Musofa selalu mengingatkan dinas ini menaikan anggarannya terutama untuk pengadaan buku. Hanya saja alasannya pemerintah saat ini masih fokus untuk pembangunan infrastruktur kota. Ia mengaku bukan membela dinas arsip dan perpustakaan kota Batam, namun pengadaan buku ini memang sudah menjadi suatu keharusan.

“Pak wali juga harus melihat ke belakang. Generasi kita kalau tak diajarkan gemar membaca bagaimana membangun SDM berkualitas. Apakah cukup dengan pembangunan infrastuktur saja,” sesalnya.

Ia menambahkan, pemko Batam harus bisa meniru daerah lain yang bisa menyediakan perpustakaan kota yang berkelas. Dikemas sedemikian menarik sehingga masyarakat yang datang menjadi betah membaca diperpustakaan.

“Yang terpenting kenyamanan dan akses, bandingkan dengan pustaka kita. Saya yakin tak semua masyarakat Batam tahu kalau kita memiliki perpustakaan. Pemko jangan hanya tutup mata untuk hal ini,” jelas Musofa.

(**)

About Sri Wahyudi

Freelancer, Jurnalis, Editor dan Grafis Designer di Hang Tuah News dan Hang Tuah Pos.

Lihat Juga

Dua Investor China Langsung Tertarik Berinvestasi di Batam

HANGTUAHNEWS.CO.ID, Batam – Dua investor Cina langsung tertarik untuk investasi di Batam begitu mendengar penjelasan tentang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *