Home / Budaya / Siak Bertanjak Bangkitkan Tradisi Budaya Melayu
Bupati Syamsuar didampingi sejumlah staf mengunjungi Pasar Seni Kesturi untuk bertemu para penggiat dan pengrajin tanjak di sentra cinderamata Kabupaten Siak

Siak Bertanjak Bangkitkan Tradisi Budaya Melayu

HANGTUAHNEWS.CO.ID – Bupati Siak Drs. H. Syamsuar, M.Si seolah menyimpan dendam tak sudah untuk membangkitkan kembali kecintaan masyarakat pada tradisi lama. Besarnya rasa cinta pada budaya melayu Riau, diwujudkan dengan inisiasinya pada gerakan “Siak Bertanjak”.

Penggunaan kembali salah satu simbol budaya melayu Riau ini, mulai mewabah di tengah masyarakat. Orang nomor satu di Negeri Istana itupun tak dapat menyembunyikan rasa bangganya, kini penggunaan tanjak mulai digandrungi banyak kalangan, terutama generasi muda.

Sebagai bentuk dukungan, Syamsuar didampingi sejumlah staf mengunjungi Pasar Seni Kesturi untuk bertemu para penggiat dan pengrajin tanjak di sentra cinderamata Kabupaten Siak itu. Punggawa komunitas Tanjak Siak yang digawangi sejumlah anak muda. Kehadiran orang nomor satu itu, dimaksudkan memberikan dukungan pada penggiat dan pengrajin tanjak tempatan.

Saat ditemui Bupati Syamsuar, punggawa Komunitas Tanjak Siak Alwindra, ia mengaku saat ini ia dan rekan-rekan sudah kewalahan meladeni pesanan tanjak yang membludak akhir-akhir ini. “Pesanan yang baru terpenuhi saat ini sudah tembus 400 buah. Kami menyimpan cita-cita gerakan Siak Bertanjak ini nantinya mampu memecahkan rekor MURI, dengan capaian peserta bertanjak terbanyak di Indonesia,” kata dia.

Lain lagi kata Armand, pengrajin produk tanjak urban ini mengaku mampu memproduksi 20 buah tanjak perhari. “Setiap hari begitu selesai diproduksi, barang langsung habis dipesan,” sebut ASN yang sehari-hari disapa Adek ini.

Syamsuar dalam kesempatan itu, selain memberikan dukungan juga memberikan masukan kepada pengrajin tanjak yang ditemuinya. “Pengemasan harus lebih baik, Pemkab akan bantu patenkan produk ini dengan merek Tanjak Siak, supaya orang-orang tau asalnya. Kalau mau cari tanjak yang asli, bolehlah datang ke Siak,” sebutnya.

Oleh komunitas Tanjak Siak, Syamsuar dihadiahi tanjak khusus yang biasa dipakai bangsawan melayu, dengan Ikat Tanjak Dendam Tak Sudah. “Salam tanjak bukan nak melagak, tapi nak budayakan tanjak Siak,” ucap Syam melafalkan salam khas komunitas tanjak.

Baca Juga  Sejarah Asal Mula Penggunaan Tanjak dan Tengkolok di Negeri Melayu

Tak sampai disitu, Datuk Setia Amanah itu juga spontan melontarkan ide terkait tradisi melayu lama lainnya, yaitu Festival Meriam Buluh Betung. Tradisi masyarakat melayu zaman dahulu itu kata dia akan digelar menjelang hari raya nanti agar suasana meriah.

“InsyaAllah suasananya akan meriah. Apalagi kalau nanti buluhnya diukir, peserta harus berpakaian melayu lengkap kopiah dan selempang. Kalau pandai bunyikan, pasti kuat. Kalau tidak, kekadang sejam tahu penat meniup ajo, tapi bunyinyo cusss..” kata Syam disambut gelak tawa yang hadir di pasar seni.

Jelang konferensi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) yang berencana menjadikan Kota Siak Sri Indrapura sebagai lokasi pelaksanaan, Syamsuar juga mengajak komunitas tanjak untuk mensukseskan dan mengenalkan tradisi melayu kepada tamu yang akan datang.

Ia bahkan juga ingin menunjukkan keindahan arsitektur Balairung Sri, yang dirancang oleh Almarhum Tengku Susido. “Konsep Waterfront City itu sebenarnya telah lama ada di Siak. Lihat saja kehebatan leluhur kita yang mampu membuat bangunan itu di masa 100 tahun yang lalu. Saya juga akan ajak tamu yang datang nanti ziarah ke makam arsiteknya di kampung tengah,” tutup Syam. (hlc)

About admin

Lihat Juga

Apresiasi Anugerah Batam Madani 2017

HANGTUAHNEWS.CO.ID, Batam – Sebagai wujud apresiasi pemerintah kota Batam kepada 10 tokoh yang membawa pengaruh …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *