Home / Budaya / Pulau Sambu Batam Berkaitan dengan Sejarah Kerajaan Melayu

Pulau Sambu Batam Berkaitan dengan Sejarah Kerajaan Melayu

HANGTUAHNEWS.CO.ID, Batam  Pulau Sambu Batam Kepulauan Riau adalah Pulau yang terletak dan berbatasan langsung dengan Negara Singapura dan Malaysia serta merupakan basis penampungan minyak dan Gas Bumi (Pertamina) di masa lampau, serta bercokolnya penjajah Belanda pada tahun 1718 yang yang menguasai beberapa Pulau dan kerajaan Melayu seperti Bintan, kerajaan Tumasik serta Pulau Sambu.

Beberapa peninggalan Belanda berupa tempat tinggal dan tangki penampungan minyak sampai saat ini masih banyak kita jumpai, dengan sebagian infrastruktur bagunan kuno dengan arsitektur asli Belanda masih terawat dengan baik, begitupun beberapa pekerja yang nampak memperbaiki serta adanya renovasi ulang terhadap beberapa tangki yang rusak.

Operation Head PT Pertamina (Persero) Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Pulau Sambu Izuddin Makmun kepada Tim Gurindam Sakti 2016 ketika bertandang dikantornya mengatakan, Pulau Sambu menurut sejarahnya masih adanya kaitan kental dengan sejarah Kerajaan Melayu.

Selat Sambu pada waktu itu merupakan wilayah kerajaan Bintan yang pada waktu itu di perintah oleh Permaisuri Iskandar Syah. Sedangkan menurut Alur cerita dilihat dari garis keturunan sebagian Raja-raja Melayu di Pulau Bintan berkaitan dengan raja dari kerajaan Bukit Siguntang Palembang dan Raja Sang Sapurba dari Kerajaan Bukit Siguntang, merupakan bagian dari Kerajaan Sriwijaya. Dimana pada abad XIII setelah di taklukan oleh Kerajaan Majapahit, bersama keluarga dan Hulubalang melakukan pengungsian, ke hilir sungai Musi.

Dalam perjalanannya Sang Sapurba bersama rombongan sampailah di kerajaan Tanjung Pura Kalimantan dan Sang Sapurba juga sempat mengawinkan salah seorang putranya dengan keturunan Raja Tanjung Pura. Beberapa tahun kemudian Sang Sapurba yang berjiwa Bahari ini melanjutkan perjalanan Maritimnya, hingga suatu saat sampailah di Selat Sambu. Permaisuri ini diangkat sebagai raja, karena ketika suaminya Sultan Iskandar Syah mangkat tidak memiliki putra mahkota.

Baca Juga  Rombongan Malaysia Kagumi Silsilah Raja-Raja Melayupura

Oleh sebab itu mendengar kedatangan Raja Sang Sapurba di Selat Sambu , maka permaisyuri Syah mengundang untuk bertandang kekerajaan Bintan, mendapat tawaran ini maka sang Sapurba yang masih berambisi untuk membangun kebesaran Sriwijaya yang telah runtuh, kembali memasang taktik exspansionisme dengan menjodohkan putranya yang bernama Nila Utama dengan putri Raja Bintan yang bernama Sri Beni. Dengan perkawinan silang antar anak raja ini di harapkan pengaruh kerajaan Sriwijaya dapat di hidupkan kembali.

Kemudian Sang Sapurba beserta pengikutnya kembali melanjutkan perjalanan untuk menyebar  pengaruh Kerajaan Sriwijaya dengan menelusuri Sungai Kuantan, dan terakhir menjadi raja di Kuantan. Sedangkan putera Sang Sapurba yaitu Nila Utama yang di kawinkan dengan putri Raja Bintan, ketika diangkat menjadi Raja Bintan, kemudian membuat kerajaan baru di Pulau Tumasik (sekarang Singapura).

Mengingat asal muasalnya Raja Tumasik Sang Nila Utama, leluhurnya berasal dari Kerajaan Bukit Siguntang Palembang, dan Kerajaan Bintan, maka Raja sang Nila Utama di beri gelar Sri Tri Buana. Dengan adanya pertalian darah hubungan kerajaan Bintan dengan Kerajaan Tumasik semakin erat sehingga lalu lintas pelayaran diantara wilayah kerajaan tersebut menjadi lebih ramai, dan Pulau Sambu menjadi salah satu daerah persinggahan yang strategis.

Operation Head PT Pertamina Pulau Sambu Batam Izuddin berharap dengan kedatangan Tim Gurindam Sakti 2016 ke Pulau Sambu secara langsung bisa menjadikan Pulau Sambu sebagai Icon dan Sejarah Nasional kedepannya sebagai cikal bakal Sejarah Melayu kebanggan Batam dan Kepri yang perlu di digali dan dilestarikan. (int)

About admin

Lihat Juga

Apresiasi Anugerah Batam Madani 2017

HANGTUAHNEWS.CO.ID, Batam – Sebagai wujud apresiasi pemerintah kota Batam kepada 10 tokoh yang membawa pengaruh …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *