Home / Serba-Serbi / Premium Langka, Dewan Pimpinan Umum Gelar Rapat dengan Pimpinan PT. Pertamina di Kota Batam
Pimpinan PT. PERTAMINA (Persero) MOR I Branch Kepri, Donny Irawan menerangkan sebab kelangkaan premium di kota Batam.

Premium Langka, Dewan Pimpinan Umum Gelar Rapat dengan Pimpinan PT. Pertamina di Kota Batam

HANGTUAHNEWS.CO.ID, Batam – Sering terjadinya kekosongan stok BBM premium di beberapa SPBU di kota Batam belakangan ini menghembuskan berbagai kabar miring seputar kinerja PT. PERTAMINA. Dari mulai kabar Pertamina sengaja tidak menyalurkan dan diganti dengan pertalite, hingga kabar ada sejumlah permainan yang dimainkan para tengkulak dengan pihak pertamina.

Menyikapi hal itu, Dewan Pimpinan Umum kota Batam, ketua DPRD kota Batam Nuryanto gelar rapat umum dengan Pimpinan PT. PERTAMINA (Persero) MOR I Branch Kepri, Donny Irawan beserta stafnya, selasa (30/5/17), bertempat di ruang rapat pimpinan DPRD kota Batam, yang dihadiri pula perwakilan dari fraksi Partai Hanura.

Perwakilan fraksi Hanura bertanya tentang kelangkaan premium.

Donny menjelaskan bahwa premium, pertalite, dan pertamax turbo sebetulnya adalah BBM Non Subsidi, namun dari pemerintah RI memberi mandat kepada Pertamina agar premium dimasukkan golongan BBM Penugasan untuk melayani kebutuhan masyarakat yang kurang mampu akan bahan bakar kendaraan bermotornya. Sehingga dikatakan BBM Subsidi karena harganya pun dibawah harga dari BBM Non Subsidi. Harga BBM Penugasan disesuaikan pula dengan kondisi kuota ketersediaan, kebutuhan masyarakat dan patokan harga minyak dunia yang berlaku.

Ketua DPRD kota Batam Nuryanto memperhatikan data statistik volume premium yang diperlihatkan Donny.

“Jenis BBM itu ada 3, yaitu BBM PSO, Subsidi, dan Penugasan. BBM Subsidi adalah BBM yang sesuai dengan perpres di subsidi oleh pemerintah. Premium sudah bukan lagi sebagai BBM Subsidi. Pemerintah menugasi pertamina agar premium tetap diberlakukan harga dibawah BBM Non subsidi guna memenuhi kebutuhan masyarakat kurang mampu di pelosok akan bahan bakar kendaraan bermotor, sehingga premium sekarang dikatakan sebagai BBM Penugasan. Selama ini Premium itu tetap ada, cuma diatur penyalurannya, sehingga subsidi tepat sasaran, kalau tidak diatur maka terjadi kekosongan di tempat yang memerlukan,” jelas Donny.

Ciri BBM Non Subsidi dilihat dari harga yang berubah-ubah dalam kurun waktu tertentu. Sejak 2011, premium masih di subsidi hingga 2017. Dana subsidi dari premium dialokasikan ke berbagai kebutuhan, seperti pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya. Dan saat ini sudah mengalami penurunan volume/kuota. Faktor menurunnya kuota/volume premium karena semakin membludaknya volume pemakai kendaraan bermotor, jadi stok volume BBM dengan kebutuhan tidak seimbang. Bila subsidi turun itulah maka penyaluranpun dialihkan.

Dari data, Kepri termasuk pemakai premium terbanyak 49% dari seluruh wilayah di Indonesia sedangkan di area Sumbagut, Kepri termasuk pemakai premium sebanyak 63,5%. Kepri untuk premium support dipusatkan di Kabil.

Sehingga dikatakan Donny, volume premium yang semakin menipis itulah membuat premium tidak lagi di subsidi, melainkan dimasukkan kategori BBM Penugasan.

“Kalau masuk non subsidi maka harganya pun sama dengan pertalite dan pertamax, dan itu akan lebih memberatkan masyarakat, dengan begitu tingginya kebutuhan, apalagi sekarang tarif listrik pun naik,” kata Donny.

Premium tidak akan dihilangkan, dan itu kata Donny, bisa di cek ke beberapa SPBU yang berada di wilayah pelosok, premium masih ada. Di Batam ada 37 SPBU, dan subsidi premium di Batam sebesar 433.000 kl. Untuk di perkotaan sekarang premium dibatasi demi kebutuhan premium di daerah pelosok tersebut menilik dari kemampuan ekonomi masyarakat kota pastinya lebih tinggi dibanding masyarakat pelosok.

“Kalau sekarang mereka bisa menyicil kendaraan dengan harga lebih dari 2 juta, sudah pasti dikategorikan ekonominya mampu kan? Sehingga kalau bisa saya himbau masyarakat yang berada di perkotaan menggunakan BBM non subsidi untuk membantu warga pelosok yang pastinya pendapatannya jauh dibawah rata-rata,” ujar Donny.

Dikatakan, Polri dan TNI sudah pemakai BBM non subsidi, ia pun meminta pemerintah kota Batam untuk memberikan himbauan kepada masyarakat Batam juga lebih memikirkan kesulitan masyarakat pelosok, untuk mau menggunakan BBM non subsidi. Dalam hal pengawasan penyaluran BBM, Donny mengatakan tak ada masalah, tergantung delivery order harian masing-masing SPBU dan sudah disesuaikan dengan kebutuhan dari masing-masing wilayah tersebut, dikembalikan lagi dengan ketidakseimbangan volume pemakai kendaraan bermotor dengan volume premium yang mengakibatkan kelangkaannya.

Nuryanto, dalam kesimpulannya Pertamina tetap mendistribusikan premium, pertalite dan pertamax turbo, harga dan kuota sudah diatur dari badan pengatur SDM nya. Dari pemerintah kota sendiri yang kendarannya berplat merah sudah memakai BBM Non subsidi. Ia akan melayangkan surat rekomendasi ke pemprov, himbauan ke masyarakat memakai BBM non subsidi bagi yang mampu, karena kuota premium sebenarnya cukup. (dian)

Rangkaian rapat Dewan Pimpinan Umum kota Batam dengan Pertamina terkait kelangkaan premium di Batam.

About Dian Ratnawati

Lihat Juga

Tujuh Kaligrafi Batam Lolos ke Final MTQ VII Kepri 2018

HANGTUAHNEWS.CO.ID, Batam – Seluruh kaligrafi dari kafilah Kota Batam yang berjumlah tujuh kaligrafi, lolos menuju final …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *