Home / Budaya / Pompong

Pompong

Oleh Fakhriyansyah – Penggiat Sastra Kota Tanjungpinang

Fakhriyansyah

Sudah jauh-jauh hari saya dan sahabat saya Husin itu, berencana untuk melancong ke seberang. Meski pun bukan seberangnya adalah ke negeri jiran atau negara tetangga Malaysia atau Singapura, bahkan Batam sekalipun. Tetapi sebuah pulau nan bersejarah nun di depan mata, Pulau Penyengat.

“Way, bile kite ke Penyengat. Heran pulak saye, kemane-mane kite dah sampai. Bahkan ke Batam pun kite sering. Cume lewat-lewat saje,” kata sahabat saya Husin.

Dalam hati saya bergumam, benar juga. Tapi saya agak sedikit runsing untuk kesana. Bukan karena saya agak gamang jika naik kendaraan laut atau bahkan mabuk laut. Tapi ada sedikit kerisauan tentang kemelayuan kendaraan pengangkut kesana. Pompong, yang tak lagi seperti dulu. Semarak dengan ukiran-ukiran melayu yang khas.

“Tengoklah besok minggu, saye sebenarnye ade menyimpan kesedihan. Sewaktu kecik dulu, bahkan sampai masuk usia remaja, saye melihat geliat penambang pompong untuk menghias pompongnye sedemikian rupe dengan ukiran-ukiran khas Melayu,” saya menggerunkan hati.

Nah, sahabat saya Husin itu pun lama merenungkan ucapan saya. Ia langsung memalingkan muka ke arah laut, karena kebetulan saya dan sahabat saya itu tinggal di Teluk Keriting yang tak tahu kapan lurusnya itu. Karena sudah mulai dipadati rumah masyarakat sampai ke tubir air laut surut. Entahlah apa yang dipikirkannya, memang sahabat saya itu agak pemikir dan pikirannya pun kadang suka melebihi batas ambang seorang pemikir.

“Sudahlah way, tak usah panjang sangat pikir tu. Kelak botak pulak kepale,” usik saya dalam gurau.

“Hahaha….” Kami pun bergelak tawa.

Tawa kami terputus dengan sama-sama memikirkan begitu cepatnya globalisasi merambah Tanah Melayu yang agung ini. Kota Tanjungpinang pun mulai sedikit-sedikit pun mulai hilang ornament-ornamen dan hiasan-hiasan Melayu. Ditelan dengan tingginya besi-besi peletak pot bunga yang hidup segan mati pun enggan, ditambah pula dengan debu-debu jalanan yang semakin menjadi. Entahlah, mau jadi apa negeri ini. Lampu-lampu hias yang sebagian bentuknya saya kenali dan sebagian saya tak ketahui itu bentuk apa dan menyerupai apa.

Kembali ke topik utama…..

Pompong yang dari zaman dulu selalu menjadi transportasi andalan jika hendak ke pulau bersejarah itu (Penyengat), mulai menampakkan tajinya. Meskipun berisik dan cukup menggetarkan telinga, sudah mulai memiliki keisitimewaan, diberikan pontoon khusus agak setaraf sedikit dengan pelabuhan sebelah (Sri Bintan Pura). Tapi meski demikian, taji nya tak setajam taji ferry-ferry yang lalu lalang, malang melintang kesana-kemari. Sedikit berbeda, yang satu dari fiber dan yang satu dari kayu.

“Kenape bise macam tu ye way?” sergah sahabat saya Husin.

Saya hanya bisa tersenyum tak sedap, “Tengoklah, kan saye dah cakap, ini yang terjadi sekarang. Makenye saye cakap kemarin agak sedih kalau nak ke Penyengat,”

Pompong sudah mulai ompong dengan ukiran-ukiran melayu, sudah sama halnya pompong biasa. Macam mana para wisatawan domestik dan mancanegara mau ramai-ramai berkunjung ke Penyengat dengan melihat begitu megah Masjid Sultan Penyengat yang penuh sejarah dan kisah-kisah luar biasa dari para bangsawan di sana.

Mungkin inilah yang harus kita pikirkan bersama, baik para pemerhati budaya (sekalipun Lembaga Adat Melayu) dan pemerintah agar lebih memperhatikan hal tersebut. Jangankan pompong yang ompong melompong tanpa ukiran melayu, kesantunan pelayanan penjual tiket pun harus diperhatikan.

Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa

Itu kutipan Gurindam 12 pasal kelima yang digubah oleh pahlawan nasional dari Pulau Penyengat, Raja Ali Haji. Saya dan sahabat saya Husin agak terkejut mendengar ucapan dan raut wajah si penjual tiket.

“Bang, saye nak beli tiket,” Tanya sahabat saya Husin sambil menyunggingkan senyum.

“Berape orang?” Tanya si penjual tiket yang berbaju kaos hitam bergambar tengkorak dan bertopi merah sambil mengerutkan keningnya dan tak memandang wajah Husin sedikitpun.

“Ambooooiii…. Bukan main santun orang ni ye? Ape mungkin karena yang beli tiket tak berambut pirang berhidung mancung atau mata sipit sekalipun,” gumam saya dalam hati.

Melayu identik dengan kesantunan, kata-katanya bersayap, untaian kalimatnya penuh kiasan. Saya mengubah pola pikir saya ke arah yang positif saja, “Mungkin abang ini tengah sakit kepale, sampai bekerut keningnye,”.

Begitu membeli tiket, kaki saya terhenti sejenak sembari melihat pompong yang akan saya naiki.  Agak sedikit sedih bercampur duka, kemana perginya hiasan itu, kemana perginya melayu itu, dan akhirnya saya pun bernyanyi dalam hati…

Kemana perginya hati…
Kemana hilangnya rasa…
Engkau kan menghilang diri, sayang…
Untuk insan yang kau puja…..

Kaki saya pun dengan berat melangkah, mau tak mau saya naik ke pompong itu. Tak kan mungkin saya nak berenang dan memilih pompong yang ada ukirannya. Tapi apakan daya, hasrat hati bertolak belakang.

“Macam mane perasaan awak?” usik sahabat saya Husin itu kepada saya.

Dan saya tak bisa menjawab, hanya bisa menjebikkan mulut saya sembari menaikkan kedua bahu saya, dan sahabat saya Husin itu pun pecah tawanya seperti suara pompong yang kian melompong itu. Mungkin agak geli-geli sedap juga perutnya melihat wajah saya.

Mudah-mudahan dikemudian hari, ukiran-ukiran khas Melayu itu dapat kembali menghiasi pompong-pompong yang menjadi alat transportasi laut, tidak hanya ke Pulau Penyengat, tetapi ke Kampung Bugis, Sungai Ladi dan tempat-tempat yang memiliki aset wisata yang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi rakyat dan menambah daftar kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara. (fakhriyansyah)

About admin

Lihat Juga

Apresiasi Anugerah Batam Madani 2017

HANGTUAHNEWS.CO.ID, Batam – Sebagai wujud apresiasi pemerintah kota Batam kepada 10 tokoh yang membawa pengaruh …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *