Home / Budaya / Penetapan Sultan Mahmud Riayat Syah Sebagai Pahlawan Nasional
Pementasan Drama Sultan Mahmud Riayat Syah di HUT TNI Ke 72

Penetapan Sultan Mahmud Riayat Syah Sebagai Pahlawan Nasional

Setelah melalui penantian yang panjang karena sudah diperjuangkan sejak 2012 lalu, Sultan Mahmud Riayat Syah telah ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia menjadi pahlawan nasional bertepatan dengan hari pahlawan tahun 2017 ini.

HANGTUAHNEWS.CO.ID, Batam – Spesialnya lagi, penetapan Sultan Mahmud Riayat Syah sebagai pahlawan nasional adalah yang pertama ditetapkan sejak Provinsi Kepri diresmikan tahun 2014 lalu. Berbeda dengan dua pahlawan nasinal sebelumnya, Raja Haji Fisabilillah dan Raja Ali Haji yang berdarah Bugis, Sultan Mahmud Riayat Syah bisa dianggap sebagai wakil simbol Melayu.

Lukisan Sultan Mahmud Riayat Syah

Patut dicatat bahwa sebelumnya yang telah disayhkan oleh pemerintah sebagai pahlawan nasional dari Kepri baru dua orang yaitu Raja Haji Fisabilillah dan Raja Ali Haji. Keduanya diusulkan dan ditetapkan jadi pahlawan nasional pada tahun 1997 dan 2004 lalu. Pihak pengusul dari keduanya adalah Pemerintah Provinsi Riau. Usai penetapan Raja Ali Haji tahun 2004 sebagai pahlawan nasional dibidang bahasa, diinventarisasi lagi nama-nama tokoh yang berpeluang jadi pahlawan nasional. Pilihanpun jatuh kepada Sultan Mahmud Riayat Syah (Mahmud Syah III). Sehingga pada tahun 2013 Suktan Mahmud Syah III diusulkan jadi pahlawan nasional, namun belum disetujui oleh pemerintah pusat.

Ada sejumlah alasan yang dijadikan sebagai pertimbangan, mengapa Sultan Mahmud Riayat Syah layak untuk dijadikan sebagai pahlawan nasional. Ia menjadi Sultan pada tahun 1761 M di usia belia, yaitu ketika masih berusia dua tahun. Ia adalah putra Tengku Abdul Jalil bin Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah (Sultan Johor-Riau ke-14) dengan Tengku Putih binti Opu Daeng Celak, Yang Dipertuan Muda (YDM) Kerajaan Riau II.

Saat berkuasa, pusat pemerintahannya berada di Hulu Riau (Kota Raja) selama 26 tahun (dari tahun 1761-1787 M).Demi taktik perang melawan Belanda, Sultan Mahmud Syah III kemudian memindahkan Ibukota kerajaan di Lingga hingga akhir hayatnya, tahun 1812 M.

Sebagai pemimpin tertinggi Kerajaan Johor-Riau-Lingga dan Pahang, banyak kebijakan Sultan Mahmud Syah III yang strategis dan monumental. Salah satunya dengan memerintahkan perjuangan melawan penjajah dalam perang di Teluk Riau dan Teluk Ketapang Melaka pada tahun 1784. Dalam peperangan ini, panglima perang Raja Haji Fisabillillah, tewas sebagai syahid. Meski mengalami kekalahan, tidak menyurutkan perjuangan Sultan Mahmud Syah III melawan penjajah. Beliau justru semakin memperkuat armada perangnya, menyusun strategi dan membangun pusat-pusat ekonomi.

Sultan Mahmud Syah III juga mempererat kerajaan Riau-Lingga-Johor dan Pahang dengan beberapa kerajaan lainnya seperti Jambi, Mempawah, Indragiri, Asahan, Selangor, Kedah dan Trenggano. Sultan Mahmud Syah III, menguatkan persaudaraan antara Melayu dan Bugis melalui ‘sumpah setia’ dan pernikahan antara kedua belah pihak. Kebijakan Sultan ini terbukti mampu menjadi senjata ampuh, melawan penjajah yang terkenal dengan politik adu dombanya.

Pada masanya juga, Lingga dirintis menjadi pusat tamaddun Melayu. Diantaranya menggalakan dunia tulis (mengarang) dalam kitab-kitab ajaran agama Islam dan bahasa (sastra) Melayu. Kelak, bahasa Melayu menjadi cikal bakal bahasa pemersatu nusantara, yakni bahasa Indonesia. Sultan Mahmud Syah III, menjadikan Pulau Penyengat sebagai maskawin pernikahannya dengan Engku Puteri Raja Hamidah binti Raja Haji. Berkat perjuangan Sultan pula, akhirnya Lingga dan Pulau Penyengat menjadikota yang hebat. Lingga kemudian dikenal sebagai Bunda Tanah Melayu dan Pulau Penyengat sebagai Pulau Indera Sakti.

Keberhasilan Sultan Mahmud Syah III jadi pahlawan nasional tak terlepas dari kerja keras tim peneliti dan penulis Mukhlis PaEni Cs dan juga Tim Pengkaji dan Penilai Gelar Daerah (TP2GP) Kepri, Abdul Malik Cs. Jangan lupakan juga semangat besar Bupati Lingga, Alias Wello dalam mewujudkan impian masyarakat Kepri ini. Tak lupa lobi-lobi politik tokoh Kepri di Jakarta juga memiliki peranan besar. Pahlawan nasional bukan hanya soal kajian akademis, tapi juga perlu dukungan politik. Perlu akses ke pusat kekuasaan di jantung Jakarta. (Hulubalang Batam)

About Sri Wahyudi

Freelancer, Jurnalis, Editor dan Grafis Designer di Hang Tuah News dan Hang Tuah Pos.

Lihat Juga

Posttest SIM PKB Guru se-Kota Batam 2017 Bila Tidak Mencapai Grade Harus Mengulang

HANGTUAHNEWS.CO.ID, Batam – Usai bimbingan dan pelatihan diberikan beberapa waktu lalu, tiba saat posttest Sistem Informasi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *