Home / Budaya / Merangkai Hari Dengan Membaca

Merangkai Hari Dengan Membaca

Fakhriyansyah – Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia Kota Tanjungpinang

Apa yang terlintas dalam benak kita ketika mendengar kata “membaca”? Sebagian ada yang berfikir membaca adalah kegiatan yang membosankan dan membuang-buang waktu. Bahkan ada yang berasumsi bahwa membaca bukanlah kegiatan yang bermanfaat karena tidak menghasilkan uang. Itu adalah pemikiran yang sangat merugikan dan dapat menghancurkan masa depan sendiri. Sebenarnya dalam persepsi yang sederhana bahwa dengan membaca, seseorang dapat menerima informasi, memperdalam pengetahuan, dan meningkatkan kecerdasan. Pemahaman terhadap kehidupan pun akan semakin tajam karena membaca dapat membuka cakrawala untuk berpikir kritis dan sistematis. Hanya dengan melihat dan memahami isi yang tertulis di dalam buku pengetahuan maupun pelajaran, membaca bisa menjadi kegiatan sederhana yang membutuhkan modal sedikit, tapi menuai begitu banyak keuntungan. Oleh karena itu kebiasaan membaca dapat dipupuk, dibina dan dikembangkan.

Membaca setidaknya dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Mengkekalkan azam tersebut memang sulit diaplikasikan dalam kehidupan. Namun, bila azam atau prinsip tersebut sudah melekat dalam diri ini, sangat sulit dilepaskan. Membaca ibarat dua sisi mata uang yang berlainan. Mengapa? Membaca memiliki peran penting dalam membangun diri untuk masa depan yang lebih baik dan membaca juga memiliki pengaruh besar kepada dunia. Sehingga ada yang mengatakan bahwa “Bacalah buku, maka dunia akan ada dalam genggaman” dan “Membaca dapat mengubah hidupku”. Mungkin sebuah idiom yang sederhana bahkan banyak yang meremehkan kegiatan membaca tersebut karena dianggap sebagai pekerjaan yang sia-sia, membuang-buang tenaga, menyita waktu dan lain sebagainya.

Nah, dengan demikian kita seharusnya memiliki azam atau prinsip dalam hidup yakni “Merangkai hari dengan membaca”. Dalam Islam, perintah membaca memang suatu perintah Allah yang benar-benar dahsyat. Untuk benar-benar memahami urgensi dari membaca, mari kita tengok firman Allah SWT tentang membaca dalam Q.S Al-Alaq ayat 1 yang berbunyi “Iqro” dan dapat diartikan dengan “bacalah”, ayat tersebut merupakan ayat perintah yang di firmankan Allah SWT kepada kita untuk membaca. Allah tidak akan memerintahkan kepada hambaNya tentang sesuatu melainkan sesuatu itu akan membawa manfaat untuk hambaNya. Membaca adalah perintah Allah SWT, ini berarti membaca merupakan suatu hal yang akan membawa manfaat untuk manusia selaku hamba Allah SWT.

Itulah sebabnya, membaca adalah suatu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Membaca hakikatnya bukan sekedar membaca buku saja. Tapi, dapat juga membaca kehidupan. Itulah sebabnya membaca harus digiatkan dan digalakkan. Memang agak sedikit memaksa, karena masa depan kita memang harus kita juga yang menentukannya sendiri, bukan teman, sahabat bahkan orang tua kita sekalipun.

Membaca harus dimulai dari sejak dini. Kehidupan di rumah harus dimulai dari orang tua sebagai contoh atau teladan yang baik untuk anak-anaknya. Kalau orang tuanya gemar membaca koran, anak melihat dan bertanya bahkan merekam apa yang dilihatnya. Karena perkembangan otak anak usia dini sedang pesat untuk merekam apa yang dilihatnya. Alangkah baiknya jika orang tuanya melakukan hal-hal yang baik seperti membaca. Sehingga sang anak akan meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya dan dapat dijadikan sebagai suatu kebiasaan yang tak terpisahkan hingga ia dewasa. Orang yang gemar membaca tidak akan pernah miskin untuk hidupnya. Karena hidupnya kaya raya dengan segenap pengetahuan dan ilmu yang bermanfaat. Apakah kita mau miskin? Apalagi miskin dengan ilmu pengetahuan? Kan malu kalau setelah dewasa kita tidak punya bekal sebagai tanda keberhasilan yang harus dijalani sepanjang hidup.

Di sekolah, kegiatan membaca merupakan sesuatu objek yang mempengaruhi pentingnya pendidikan. Peran perpustakaan sekolah sangat vital dalam membangun keberhasilan dan kejayaan suatu sekolah. Dengan motivasi, inspirasi dan inovasi dalam mengubah paradigma siswa dalam kegiatan membaca, pustakawan sekolah atau pustakawan guru harus bekerja keras dan berpikir kritis dalam menarik daya minat siswa untuk gemar membaca. Sangat mudah jika siswanya sudah terbiasa dan dekat dengan buku, tapi tantangan yang berat adalah bagaimana mendekatkan siswa dengan membaca, namun terlebih dahulu mendekatkan siswa dengan perpustakaan dengan berbagai macam cara dan strategi untuk memulai kecintaan siswa terhadap perpustakaannya terlebih dahulu. Lalu jika mereka sudah cinta terhadap perpustakaan, barulah pustakawan memperkenalkan kebiasaan baik tentang membaca. Disinilah peran penting pustakawan untuk mempromosikan perpustakaan dan mengkampanyekan kegiatan gemar membaca kepada seluruh siswa atau peserta didik.

Pustakawan bukan hanya orang yang bertugas untuk menerima buku, mengecap, mendata dan meletakkan buku ke dalam rak. Namun tugas pustakawan adalah mengajak siswa untuk bersama-sama membangun masa depan dengan membaca. Jangan biarkan buku-buku di perpustakaan ditutupi dengan debu dan tetap rapi seperti baru. Biarkan buku itu berserakan dan bahkan rusak karena ia sering dibaca. Disini berarti pustakawan telah memberikan sedikit nyawanya untuk masa depan generasi penerus bangsa. Hal ini tidak dapat terlaksana jika tanpa peran guru dan orang tuanya. Banyak cara untuk membangkitkan gairah membaca kepada siswa. Mungkin membuat suatu ramuan yang jitu dan bermanfaat seperti melaksanakan perlombaan yang berkaitan dengan proses membaca, misal lomba bercerita, story telling, lomba berbalas pantun dan lain sebagainya. Atau melaksanakan kampanye dan pemilihan duta baca yang dilaksanakan seperti pemilihan ratu sejagat atau Miss Universe. Sehingga hal tersebut dapat memacu dan memotivasi peserta didik untuk terus berkunjung ke perpustakaan. Bukan sekedar berkunjung, mungkin dapat melakukan tukar pendapat dengan pustakawan atau melakukan pendekatan kepada pustakawan dalam berbagi pengalaman. Disinilah tuntutan pustakawan untuk melepaskan dirinya dari sikap sombong, apatis dan menjengkelkan. Perilaku pustakawan sekolah yang bengis, kurang ramah, serta sifat-sifat negative lain perlu dikikis habis. Sehingga siswa dapat lebih dekat dengan pustakawannya, yang merupakan penasihat siswa dalam belajar, serta mencari informasi dan ilmu pengetahuan. Pustakawan sekolah juga harus bersifat proaktif dan suka menolong. Siswa yang kurang paham bagaimana cara mengakses sebuah koleksi, misalnya saja cara mencari buku Untung Sabut tulisan H. Muhammad Sani. Pustakawan sekolah harus telaten dalam mengajarkan penelusurannya. Jika tidak ada buku tersebut, pustakawan tidak hanya menyerah begitu saja, tetapi kembali bertanya untuk dicarikan buku lain atau yang serupa dengan yang diinginkan pemustaka. Sehingga tidak ada yang merasa dirugikan.

Siswa yang dekat dengan pustakawannya, akan mahir dalam mencari dan menggunakan informasi dan ilmu pengetahuan yang dibutuhkan dalam proses penyerapan dan penalaran pelajaran mereka. Siswa yang mudah menyerap pelajaran yang diberikan oleh guru, merekalah yang mudah pula untuk mengukir prestasi.

Selain membantu siswa dalam mengakses koleksi, pustakawan sekolah harus menyediakan informasi dan memberi solusi atas kesulitan siswa dalam belajar. Informasi tambahan yang dibutuhkan siswa, baik itu ilmu pengetahuan dan teknologi baru, atau pun informasi lain seperti lomba karya ilmiah remaja. Informasi yang segar serta teknologi baru akan menarik siswa untuk berduyun-duyun memanfaatkan perpustakaan sebagai pusat sumber informasi dan ilmu pengetahuan. Dengan informasi dan teknologi terbaru itulah, siswa bisa lebih bisa berkiprah dalam meraih prestasi.

Sudah saatnya perpustakaan memiliki peran penting dalam menggiatkan semangat membaca kepada peserta didik. Merangkai hari dengan membaca terus dikampanyekan dengan serius dan konsekuen. Sampailah saatnya nanti akan terbentuk suatu komunitas membaca dilingkungan sekolah yang akan mengharumkan nama sekolah dan bukan hanya sekedar aktifitas yang bersifat sementara tetapi setiap tahunnya komunitas membaca akan terus tumbuh seperti cendawan yang tumbuh di musim hujan. Bukan bermakna orang yang gemar membaca itu akan jamuran atau bulukan tetapi idiom itu memiliki makna yang dalam untuk menumbuhkembangkan gemar membaca kepada siapapun. Semoga kita semua terus memacu diri untuk giat dan gemar membaca. Membaca itu tak ada ruginya, membaca tak pernah ada yang miskin dan membaca dapat mengubah hidup yang lebih baik. MARI MEMBACA… (fakhriyansyah)

About admin

Lihat Juga

Apresiasi Anugerah Batam Madani 2017

HANGTUAHNEWS.CO.ID, Batam – Sebagai wujud apresiasi pemerintah kota Batam kepada 10 tokoh yang membawa pengaruh …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *