Home / Internasional / Mengapa Catalonia Ingin Merdeka?
Ilustrasi foto : globalresearch

Mengapa Catalonia Ingin Merdeka?

HANGTUAHNEWS.CO.ID – Bagi kelompok pro-kemerdekaan, memisahkan diri dari Spanyol telah menjadi proyek selama tiga abad, tepatnya dimulai pada 1714, ketika Raja Philip V dari Spanyol menganeksasi Catalonia dalam Spanish Succession –peristiwa yang memicu berdirinya Spanyol modern.

Sejak itu, para nasionalis Catalonia konsisten menuntut otonomi khusus. Mereka berdalih bahwa budaya Catalan (demonim Catalonia) memiliki perbedaan yang signifikan dengan kultur Castilla yang mendominasi Spanyol.

Selain itu, Catalan juga berpendapat, sedari awal mereka tidak pernah ingin menjadi bagian dari Kerajaan Spanyol, mengingat Raja Philip V menganeksasi wilayah itu secara paksa melalui peperangan.

Pada 1932, pemerintah Spanyol menyetujui otonomi khusus kawasan di timur laut Negeri Matador itu. Akhirnya, pemimpin regional setempat mendeklarasikan Republik Catalan.

Namun, ketika Generalisimo Francisco Franco menjadi penguasa pada 1939, otonomi khusus itu dihapuskan. Franco juga secara sistematis menekan tumbuhnya segala bentuk nasionalisme Catalonia.

Di bawah kediktatoran Franco, pemerintah mencoba untuk membasmi semua budaya, individu, dan institusi yang mengasosiasikan diri dengan nasionalisme Catalan. Bahkan, tidak ada satupun keluarga Catalan yang tak luput dari persekusi hingga eksekusi sepanjang periode tersebut.

Ketika sang generalisimo meninggal pada 1975 –yang juga menandai akhir dari periode ultranasionalisme di Spanyol– wacana untuk memerdekakan diri kembali bergaung di Catalonia.

“Banyak warga Catalan yang tumbuh dewasa mempercayai bahwa diri mereka bukanlah ‘orang Spanyol’,” jelas sebuah artikel yang ditulis oleh Times.

Puncaknya pada 2006, ketika Madrid mengesahkan statuta otonomi Catalonia yang memberikan kendali mandiri pada keuangan serta pajak pada wilayah tersebut. Statuta tersebut, menurut The Washington Post, menjadikan wilayah dengan Ibu Kota Barcelona itu seakan seperti ‘negara’.

Namun pada 2010, Mahkamah Konstitusi Spanyol membatalkan statuta tersebut dengan menyebut, Catalonia bukan kebangsaan dan juga negara. Keputusan itu diprotes oleh jutaan warga Catalan.

Meski begitu, Catalonia tetap memiliki kontrol finansial besar pada wilayahnya jika dibandingkan dengan region lain di Spanyol.

Ada beberapa hal yang mungkin membuat Madrid begitu memberikan otonomi besar kepada Catalonia, yang sekaligus menjadi alasan mengapa Spanyol tak ingin kawasan tersebut memerdekakan diri.

Baca Juga  Pemerintah Indonesia Tidak Mengakui Kemerdekaan Catalonia

Catalonia adalah wilayah terkaya di Spanyol. Sebagai region industri, wilayah itu menampung banyak industri logam, makanan, farmasi, dan kimia untuk memasok kebutuhan di Spanyol.

Tak hanya itu wilayah yang membentuk 16 persen populasi dan menyumbang 20 persen PDB Spanyol tersebut, turut memiliki sektor pariwisata yang populer di Barcelona.

Sedangkan pada tataran geo-politik, kemerdekaan itu dianggap mampu menyulut gerakan serupa pada region di negara lain yang memiliki otonomi khusus seperti Catalonia, seperti beberapa di antaranya, Bavaria di Jerman dan Skotlandia di Inggris.

Sementara itu, warga Catalonia yang pro-kemerdekaan berpendapat bahwa mereka berkontribusi besar menyumbang pajak bagi Spanyol. Pada 2014, wilayah tersebut menyumbang sekitar US$ 11, 8 miliar kepada otoritas pajak. Sedangkan alokasi pajak yang digelontorkan untuk pembangunan Catalonia, tidak sebesar sumbangsih tersebut.

Dan hal itu menjadi salah satu alasan mengapa Catalonia ingin memisahkan diri dari Spanyol.

Akan tetapi, mereka yang menolak kemerdekaan Catalonia berpendapat, memisahkan diri dari Spanyol justru akan mengakibatkan resesi ekonomi secara krusial.

Karena, hampir tidak mungkin bagi Catalonia yang baru merdeka untuk bergabung dengan Uni Eropa dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), yang akan menaikkan biaya ekspor dan impor di kawasan tersebut.

Dampak lain yang muncul adalah berkurangnya lapangan pekerjaan di Catalonia.

Mereka juga khawatir, bahwa Catalonia bisa berubah menjadi kawasan anti-imigran dan bertendensi rasisme akibat semakin berkembangnya nasionalisme yang berlebih di kawasan tersebut.

Sementara itu seperti dikutip dari Quartz, beberapa analis berpendapat bahwa kemerdekaan Catalonia jauh dari niscaya.

“Haruskah kita khawatir dengan referendum dan konsekuensinya? Terlepas dari semua berita utama dalam beberapa pekan terakhir dan yang akan datang, kami percaya bahwa kemungkinan kemerdekaan dalam waktu dekat mendekati nol,” jelas analis dari firma keuangan Inggris Barclays

“Suara pro-kemerdekaan tidak memerintahkan mayoritas. Jajak pendapat menyebut, mereka hanya menyusun total 40 suara nasional. Selanjutnya, Mahkamah Konstitusi mengumumkan bahwa referendum tersebut ilegal dan juga kemungkinan besar menyatakan hal serupa untuk berbagai pernyataan deklarasi kemerdekaan sepihak yang akan muncul,” tambah Barclays. (rah/L6)

About Sri Wahyudi

Freelancer, Jurnalis, Editor dan Grafis Designer di Hang Tuah News dan Hang Tuah Pos.

Lihat Juga

Kemlu Serahkan 6 ABK Eks-Sandera di Benghazi ke Keluarga

HANGTUAHNEWS.CO.ID – Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi melakukan serah terima enam orang ABK yang menjadi korban …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *