Home / Budaya / Membangun Peradaban Melayu Baru

Membangun Peradaban Melayu Baru

HANGTUAHNEWS.CO.ID, Batam – SEKIRA 2.500 SM, dikenal dengan sebutan Proto Melayu – pedagang India – dan pengaruh Hindu dan Budha – Sriwijaya di Sumatera dan Majapahit di Jawa – berakhir dengan masuknya ajaran Islam, adab dan budaya orang Melayu, menjadi kian kompleks. Karakteristik yang kental dari kehidupan pesisir yang agamais – yang disediakan alam – muslim yang kuat, membuat orang-orang Melayu, tidak begitu silau dengan panorama dunia.

Dalam perkembangannya  — pada sekira tahun 1.500-an – sebagian daerah kekuasaan Melayu, takluk ke tangan bangsa-bangsa eropa, seperti Belanda, portugis, Inggeris dan Spanyol.  Ini bersamaan dengan takluknya kerajaan Melayu yang ada di Riau, Lingga, Johor dan Pahang. Ditengah tekanan koloni penjajah, para raja-raja Melayu bersatu padu membangun kekuatan rasis, bagi melawan penjajah.   

Menurut Prof Emeritus Abdullah Hassan,  peneliti Melayu asal Malaysia,  Melayu itu adalah peradaban maritim. Ia adalah bangsa penguasa laut.  Melayu dikelompokkan dari bentuk wajah, warna kulit, bentuk tubuh dan bahasa dan budaya yang dikenakan. Menjadi sangat mudah untuk menemukan suku bangsa yang sama, dari keturunan melayu dunia. Orang-orang Melayu, meski berada dibelahan benua yang beda, namun memiliki kemiripan akan warna kulit, bentuk muka, bahasa dan budaya yang mereka gunakan.

Dalam kajian Antropologi, bangsa Melayu berasal dari campuran dua bangsa, yakni Proto Melayu dan Deutero Melayu.  Proto Melayu adalah ras Mongoloid, yang diperkirakan bermigrasi sekitar 2.500 – 1.500 SM ke Asean. Ras Mongoloid ini berasal dari, Provinsi Yunnan di selatan China, New Guinea, atau Kepulauan Taiwan.  

Sedang Bangsa Deutero Melayu, berasal dari daratan Asia Tengah dan Selatan, sekitar 300 SM. Bangsa ini membawa serta budaya India. Dalam sebuah makalahnya yang disajikan pada seminar Pendidikan Bahasa Melayu di Beijing, 13 Juni 2010 lalu, Emeritus mengungkapkan, bahwa sebenarnya manusia Melayu ini telah menjelajah separo bumi ini, yakni mulai dari wilayah samudera pasifik (Lautan Teduh) hingga ke lautan Hindia. Lalu penyebarannya dari pulau Krismas di Timur, hingga ke pulau Madagaskar di barat.

Bangsa Penjelajah

Pada masa keemasan bangsa Melayu, orang-orang Melayu lama, berhasil menjelajah kebeberapa belahan dunia. Di Indonesia, termasuk di Aceh yakni pda era Sultan Iskandar Muda.  Aceh  waktu itu adalah satu dari lima kerajaan terbesar dunia waktu itu.  Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Aceh, Malaka dan Demak,  adalah tonggak nyata dari kebesaran bangsa Melayu lama.

Sayangnya, masa keemasan Melayu  itu tidak cukup kuat mewarnai karakteristik orang Melayu saat ini.  Menurut DR. Mustafa Abubakar, peneliti Melayu asal Aceh, saat ini justru perekonomian dunia, dikuasai oleh bangsa Barat dan China. Keampuhan dan keunggulan orang Melayu dalam berpetualang di laut, berdagang dan perkasa, menjadi sebaliknya saat ini.

“Saat ini kesadaran orang Melayu sebagai saudara serumpun, makin berkurang. Puak-puak Melayu, tercerai berai sebagai dampak politik pecah belah oleh pemerintah colonial. Akibatnya, orang-orang Melayu menjadi termarjinalkan oleh kapitalis dan globalisasi,” kata Mustafa, dalam sebuah tulisannya yang bertajuk : “Peradaban Melayu (Penguatan Ekonomi Masyarakat Melayu dalam Percaturan Ekonomi Gobal),”  yang disadur Google.

Mentalitas budaya yang bernuasa relegius, dan kurang menekankan pada materi,  adalah sisi yang menarik dari jiwa orang Melayu. Sifat semacam ini, tidak cuma dimiliki oleh orang Melayu di Indonesia. Akan tetapi juga dimiliki oleh orang-orang Melayu yang ada dilima negara Asean, seperti, di Thailand Selatan, Malaysia Barat dan Timur, Brunai Darussalam, Singapura, dan Filipina Selatan (Mindanao). Malah pada masa keemasan bangsa ini, para pelaut melayu menyebarluas keantero negeri, seperti ke Madagaskar di pantai Utara Afrika sampai Selandia Baru bagian Selatan, Kepulauan Paskah (Samudera Pasifik) di sebelah barat sampai Kepulauan Okinawa, Jepang bagian Timur.

Peneliti Kebudayaan asal Indonesia, Selo Sumarjan mengatakan, orang Melayu sudah sangat terbiasa dengan pekerjaan yang berorientasi pada kehidupan bermasyarakat (socially oriented), ketimbang semata-mata materi (material oriented). Karakteristik model ini, menunjukkan, betapa orang-orang melayu punya prinsif kolektivisme, dan bukan individualistik. Orang melayu, cendrung mengabaikan segala hal yang berbau dunia, dan lebih mengutamakan kehidupan setelah mati.

Ajaran Islam yang menyebati dalam sikap dan prilaku orang-orang Melayu, menjadi prinsif hidup yang tak lakang dek paneh dan dek lapuk di hujan”. Sikap sederhana dan bersahaja, yang dipancarkan dari orang Melayu, menandakan betapa attitude orang melayu, lebih banyak “mengurut dada” dalam berprilaku sehari-hari.  Itu sebabnya, orang-orang Melayu, memiliki tepo selero yang tinggi, dan sopan santun yang kuat, dalam menjaga hubungan dengan berbagai macam suku pendatang.  

Menghadapi Tiga Masalah Pelik

Dewasa ini, bangsa Melayu Asean, dihadapkan pada dua masalah pelik, yang dari dulu, hingga kini, sulit teratasi.  Pertama adalah, tingginya tingkat kemiskinan, sebagai dampak dari keterbatasan kaum terdidik dikalangan orang Melayu.  Kedua adalah, adanya konflik sara secara sporadis yang  hingga kini belum tertangani secara baik. Dan yang terakhir adalah, kerasnya arus asimilasi di era globalisasi saat ini.

Menurut DR. Mustafa Abubakar, masalah utama yang dihadapi orang Melayu dunia saat ini adalah , tingginya angka kemiskinan orang-orang Melayu, sebagai akibat rendahnya kualitas pendidikan. Saat ini pemerintah, maupun sejumlah pemda, seperti Aceh, Kalimantan, Jambi, Riau dan Kepulauan Riau, mulai memandang pendidikan sebagai kata kunci untuk membangun ketertinggalan orang-orang Melayu.

Baca Juga  Jangan Usik 'Melayu' Wai

Sementara hal lain yang tak kalah pentingnya adalah, tak berkesudahanya konflik sporadis, antara sesama ras melayu maupun dengan ras lainnya. Seperti yang terjadi di Aceh, Filiphina Selatan dan Thailand Selatan. Selain itu, gelombang asimilasi yang massive, telah melenturkan  kekokohan prinsif orang Melayu, menjadi yang mudah terintimidasi, terpecahbelah, dan longgarnya rasa persaudaraan sesama orang Melayu. Perobahan generasi secara turun temurun, kian mengikis kemelayuan itu sendiri, sehingga ada kencendrungan mereka “malu” untuk mengakui jatidiri mereka sebagai anak Melayu.

Asimilasi yang tajam di era globalisasi saat ini, bukan tidak mungkin akan menghilangkan identitas kemelayuan dikalangan anak dan cucu orang Melayu. Terlebih pula, ada kesan suram soal watak orang Melayu, yang dikiasi dengan kata-kata ; pemalas, besar bual, temberang, lamban, dan banyak lagi kata-kata yang tak enak, yang justru tidak diketahui entah dari mana asal muasalnya.

Kata-kata soal watak itu, sepertinya sebuah “stempel” bagi orang-orang yang disebut sebagai Melayu. Kata-kata dengan sifat kejelekkan ini, sangat memberi warna kelabu dalam kehidupan sehari-hari orang-orang Melayu.  Ini sangat beda dengan orang eropa yang dikorpuskan sebagai orang yang cuek, kapitalis, individualistis, dan sosialis. Begitu juga bangsa China, yang dijuluki sebagai kaum kapitalis, pedagang yang ulet dan licin, serta individualistis yang pantang menyerah.

Kalau saja kondisi ini terus menerus dibiarkan, maka lambat laun, bukan tak mungkin slogan yang mengatakan : “Tak kan hilang Melayu di bumi”, betul-betul cuma pepesan kosong. Anak dan cucu orang melayu, akan kehilangan jatidirinya, lalu melebur kesegala arah, sehingga tidak ada satupun generasi mereka yang menjaganya. Peradaban Melayu yang sebelumnya utuh seperti baja, memuai, meleleh kesegala arah, dan hilang entah kemana, bersamaan dengan kerasnya arus globalisasi. 

Merobah Mentalitas dan Penguatan Ekonomi

Presiden Joko Widodo, menyebut perobahan prilaku ini sebagai sebuah revolusi mental. Namun Nyat Kadir, Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam, yang sekaligus anggota DPR-RI asal Kepri ini, menyebutnya sebagai to basic.  Yakni, upaya kembali kepada asal muasal bangsa Melayu terbentuk. Orang Melayu kekinian dan Melayu lama, sangat berbeda terbalik, baik dalam soal prilaku hidup, prinsif dan tujuan hidup, serta mentalitasnya.

Menurut Nyat Kadir, orang Melayu harus memiliki pandangan yang kuat dan jauh kedepan, baik untuk urusan dunia, maupun untuk urusan akhirat. Didalam jatidiri orang Melayu, kata Nyat Kadir, sesungguhnya telah tertanam jiwa pendekar yang gigih dan perkasa, disiplin, unggul dalam segala urusan dunia dan akhirat, ulet, pantang menyerah, dan setiakawan.  Hanya saja, sifat-sifat itu lentur dengan sendirinya, bersamaan dengan terjadinya asimilasi secara gradual, yang nyaris menyebabkan orang melayu kehilangan jatidirinya.

Kedepan, anak-anak Melayu saat ini,  harus berani menepukdadanya sendiri, untuk mengatakan, kalau mereka adalah anak melayu sejati. Tak cukup dengan menepuk dada, anak-anak melayu sebagai generasi penerus, harus lebih banyak belajar dari sejarah leluhur mereka, tentang sebuah mentalitas. Mereka harus meninggalkan begitu saja, tentang sebuah mentalitas yang buruk.  Lalu berganti dengan mentalitas yang baru,  yang diadopsi dari mentalitas leluhur mereka.

Begitu juga dengan masalah ekonomi.  Nyat Kadir berpandangan, bahwa orang Melayu lama,  telah memulai suatu kerangka ekonomi kolektif antar negara Asia Tenggara dan dunia.  Ekonomi negara Asia Tenggara, dibangun oleh suku bangsa melayu, menjadi sebuah pusat unggulan ekonomi dunia. Berbagai potensi alam yang dimiliki orang-orang melayu, menjadi daya tarik bangsa China dan Eropa, untuk merajut dagangnya dengan suku Melayu.  Mereka bisa saling mengisi satu sama lain,  dalam kerangka bisnis antar suku bangsa.  

Hal senada dikatakan Mustafa Abubakar. Menurut Mustafa, kejayaan kerajaan-kerajaan  Melayu yang menguasai hampir sebagian besar ekonomi dunia, pada masa lampau, setahap demi setahap harus dijelmakan kembali. Era MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) saat ini, adalah momentum bagi merekat hubungan Melayu se Asean,  dengan mulai kembali menata ekonomi orang melayu, termasuk juga mengelola sumber alamnya.

Dengan populasi penduduk melebihi 400 juta jiwa, masyarakat Melayu dunia, memiliki potensi pasar global di Negara-negara Timur Tengah dan Afrika, yang berpenduduk mayoritas Islam. Hubungan yang telah terbina di masa lampau, yakni antara Sultan Iskandar Muda di Aceh,  dengan bangsa Inggeris, Perancis, Belanda dan Turki, mestinya dilakukan jejak recurent , bagi penguatan ekonomi masyarakat Melayu dunia.

Mustafa mengatakan, keselarasan kebijakkan ekonomi di Negara-negara berpenduduk Melayu, harus diujudkan. Ini boleh jadi diawali dengan pemberian berbagai insentif, tarif ekspor,  besaran subsidi dan berbagai stimulus ekonomi. Mustafa melihat, pentingnya ditanam etos kerja bagi orang Melayu yang, seperti halnya orang Jepang, dalam membangun ekonomi masyarakatnya.

Selain itu, kata Mustafa, penguatan ekonomi masyarakat Melayu dalam peraturan ekonomi global, dapat dicapai jika terjalin kerjasama antara sesama bangsa serumpun. Solidaritas dan rasa kekeluargaan yang kuat sesama bangsa serumpun, menjadi kunci keunggulan masyarakat Melayu dunia kedepan.

Sementara pemerhati Melayu asal Indonesia, Mahyudin Al Mudra, berpendapat, kemajuan ekonomi suatu bangsa, menurut ukuran orang Melayu, adalah suatu proses perkembangan  materi, etika dan moral kearah yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia. Ini berbeda dengan kemakmuran menurut dunia barat. Dunia Barat, memandang kemajuan hanya diukur dari sisi pertumbuhan materi dan kesejahteraan, meski mengabaikan nilai-nilai luhur mereka***

About admin

Lihat Juga

Apresiasi Anugerah Batam Madani 2017

HANGTUAHNEWS.CO.ID, Batam – Sebagai wujud apresiasi pemerintah kota Batam kepada 10 tokoh yang membawa pengaruh …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *