Home / Budaya / Membangun Karakter Melalui Sastra

Membangun Karakter Melalui Sastra

Oleh FakhriyansyahGuru Bahasa Indonesia SMP Negeri 5 Tanjungpinang

Fakhriyansyah – Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 5 Tanjungpinang

Pendidikan di Indonesia dewasa ini menekankan lebih dari segi aspek kognitif dibandingkan aspek psikomotor dan afektif. Sebenarnya aspek yang lainnya itu merupakan salah satu penunjang untuk keberhasilan dan kesuksesan peserta didik. Apabila ketiga aspek tersebut dapat berjalan secara beriringan, maka peserta didik akan menjadi siswa yang berkarakter dan mampu bersaing dengan sehat.

Ketidak seimbangan inilah menumbuhkan kesadaran bagi banyak orang bahwa keunggulan, keberhasilan dan kesuksesan seseorang bukan semata-mata ditentukan atau diukur dengan kecerdasan intelektual atau IQ. Bila ada sebuah pengujian atau tes IQ, dan orang tersebut mendapatkan hasil yang tinggi belum tentu menjamin aspek psikomotor dan afektif orang tersebut juga baik. Namun yang dibutuhkan dalam kehidupan bukan hanya kecerdasan dalam menciptakan sesuatu, tetapi juga kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual.

Saat ini melalui kurikulum 2013, semuanya berubah drastis. Kesemuanya ditekankan pada penilaian sikap, keterampilan dan pengetahuan. Bukannya seperti yang dijelaskan diatas, pendidikan yang diatur dalam sistem pendidikan Indonesia yang menekankan aspek pengetahuan semata. Sehingga penilaian tentang sikap atau yang dikenal sebagai karakter/budi pekerti terabaikan.

Membangun karakter dapat dilakukan dengan berbagai cara. Bukan hanya melalui penjelasan tentang definisi umum karakter/budi pekerti semata, tetapi melalui pelbagai cara yang dilakukan, salah satunya melalui SASTRA. Tak jarang kita melihat bahwa banyak orang yang terharu dan bahkan meneteskan air mata saat membaca novel, puisi dan karya sastra lainnya. Disini tampak bahwa karya sastra juga mampu menumbuhkan karakter pribadi. Yaitu melalui karya sastra kita dapat mengasah perasaan, berempati, lebih menghargai orang lain, memperhalus perasaan dan membuat diri kita menjadi lebih dewasa.

Karya sastra banyak mengemukakan permasalahan yang sangat bermanfaat bagi perkembangan psikologi atau jiwa peserta didik. Maka semakin banyak siswa yang membaca sastra, semakin kayalah siswa akan pengalaman batin sehingga akan terbentuk pribadi yang lebih arif dalam menghadapi problema kehidupan. Bukan berarti buku pelajaran ditinggalkan dan dilupakan. Karena buku pelajaran merupakan bagian terpenting dan vital dalam proses pembelajaran. Sedangkan buku-buku penunjang lainnya termasuk buku karya sastra (novel, antologi puisi dsb) hanyalah sebagai pembentuk pribadi.

Hal inilah yang dihadapi guru Bahasa dan Sastra Indonesia untuk menekankan budaya gemar membaca terutama tugas utama pengelola pustaka atau pustakawan sekolah untuk menyuguhkan bahan bacaan yang bermanfaat dan berguna untuk membentuk kebiasaan gemar membaca dikalangan sekolah. Pembelajaran sastra harus berorientasi pada kegiatan pengalaman bersastra bukan pada pengembangan teori-teori sastra. Inilah “PR” bagi guru Bahasa Indonesia (termasuk saya) yang harus (mampu) memberikan contoh dan memberikan pembelajaran (baik praktik maupun teori) terhadap pendalaman materi sastra. Karena banyak guru Bahasa Indonesia yang hanya mampu di bidang tertentu dan tunak dalam kepiawaiannya dalam kebahasaan dan dibandingkan sastra-nya.

Kendala dalam kecintaan peserta didik terhadap membaca terutama membaca buku-buku sastra yakni belum tersedianya buku-buku dan referensi tentang sastra. Terutama yang paling menyedihkan yakni minat siswa untuk menggauli sastra masih minim. Keinginan “menggauli” sastra tersebut tenggelam akan kehadiran tetamu baru mereka seperti game online, chatting, facebook, twitter dan lain sebagainya. Sastra semakin diketepikan eksistensinya di kalangan pelajar. Seharusnya di era canggih seperti sekarang kehadiran internet dapat dimanfaatkan untuk mengakses sastra.

Apresisasi sastra di kalangan pelajar seolah hanya sekedar paham dan mengenal jenis-jenis karya sastra. Namun untuk berkenalan lebih dekat mungkin masih belum mau. Menurut Aminuddin (1978) menjelaskan bahwa apresiasi sastra merupakan kegiatan untuk menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh dapat menimbulkan kepekaan perasaan, daya pikir, dapat memetik nilai-nilai moral dan kemanusiaan yang terkandung dalam sastra. Dari pendapat itu, dapat disimpulkan bahwa kegiatan apresiasi sastra dapat tumbuh bila siswa terlibat dan akrab bersahabat dengan sastra juga akan memberikan implikasi yang mampu merumuskan karakternya.

Banyak sekali poin-poin karakter yang sebenarnya berad di rahim sastra itu sendiri. Bahkan dalam sebuah pembelajaran, peserta didik diminta untuk menemukan unsur ekstrinsik (unsur pembangun di luar sebuah karya sastra). Yakni peserta didik harus mencari nilai-nilai yang berkaitan dengan cerita tersebut. Namun harus melakukan proses membaca. Nah, inilah tantangan kita sebagai seorang guru Bahasa Indonesia yang mampu membangkitkan gairah gemar membaca terhadap peserta didik. Nilai moral yang terkandung di dalam suatu karya sastra harus ditentukan oleh peserta didik itu. Harapannya, setelah ditentukan seyogianya nilai-nilai moral itu membalik kepada pribadi peserta didik tersebut. Bak kata pepatah “Buang yang keruh, ambil yang jernih.” Maknanya adalah mengambil hal yang baik (positif) untuk dijadikan sebagai bekal kehidupan, dan buang hal yang tidak baik (negatif) untuk dijadikan pelajaran.

Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa

Jika hendak mengenal orang yang mulia
Lihatlah pada kelakuan dia

Jika hendak mengenal orang yang baik perangai
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai
(Gurindam 12, Pasal 5, Raja Ali Haji)

Pendidikan karakter yang tengah digiatkan membuat dunia pendidikan gencar untuk menanamkan nilai-nilai karakter dan budaya bangsa yang sejatinya telah ditanamkan oleh leluhur bangsa ini. Nah, melalui karya sastra inilah karakter dan budaya bangsa perlu dijadikan sebagai patokan dan identitas bangsa yang mampu membangun akhlak generasi dan menciptakan generasi penerus bangsa yang berbudi pekerti luhur, kompetitif dan berakhlak mulia. Pembentukan watak dan moralitas/akhlak siswa bukan hanya kewajiban guru agama atau pendidikan kewarganegaraan semata, melainkan kewajiban kita semua. Terlebih kita melihat generasi sekarang, yang kehilangan karakter dan generasi yang mengalami degradasi moralitas.

Maka sepatutnyalah kita berjuang untuk membentuk generasi yang berkarakter. Generasi yang memiliki sence of crisis yang sangat tinggi. Kelak bila hal ini tercapai makan tidak akan ada lagi pelajar yang tawuran, serta tindak amoralitas lainnya. Anomali akan tujuan hidup sebagai seorang pelajar tidak akan terjadi dengan kepekaan sosial yang tinggi serta kesantunan dan nilai religius yang sudah berbentuk, tertanam serta tercermin dalam pribadi siswa itu. Semoga…..

About admin

Lihat Juga

Apresiasi Anugerah Batam Madani 2017

HANGTUAHNEWS.CO.ID, Batam – Sebagai wujud apresiasi pemerintah kota Batam kepada 10 tokoh yang membawa pengaruh …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *