Home / Serba-Serbi / Kisah Unik Dibalik Sumpah Pemuda

Kisah Unik Dibalik Sumpah Pemuda

HANGTUAHNEWS.CO.ID – Sumpah Pemuda merupakan salah satu tonggak sejarah utama dalam kemerdekaan bangsa Indonesia. Ikrar Sumpah Pemuda yang disuarakan oleh para pemuda saat Kongres Pemuda II di Jakarta pada tanggal 28 Oktober 1928 menjadi awal bersatunya bangsa Indonesia khususnya para pemuda. Tapi dibalik peristiwa bersejarah itu banyak orang yang tidak mengetahui beberapa kejadian unik yang terjadi pada saat itu. Berikut ini beberapa peristiwa unik yang terjadi saat perumusan Sumpah Pemuda.

Sifat Jahil dari Para Pemuda
Terungkap bahwa para pemuda pencetusan Kongres Pemuda II ini selain pintar dan disiplin juga mempunyai sifat jahil. Seperti penuturan seorang pelaku sejarah Sumpah Pemuda Abu Hanifah, pada 1977 di majalah Prisma. Para pemuda yang menjadi pencetus lahirnya Sumpah Pemuda, umumnya adalah para mahasiswa, banyak tinggal di rumah kos-kosan di Jalan Kramat 106. Setiap malam mereka yang terdiri dari beberapa mahasiswa ini berdiskusi tentang berbagai hal. Setelah lelah melakukan diskusi sampai larut malam, mahasiswa ini biasanya mengumpulkan uang untuk membeli kopi dan sate atau soto ke Pasar Senen.

Diskusi yang awalnya membicarakan hal yang berat-berat berubah menjadi semakin ringan. Tidak jauh-jauh seperti para pemuda jaman sekarang yang didiskusikan kala itu pastinya adalah wanita. Tetapi jika menjelang ujian, para pemuda mahasiswa ini tidak melakukan diskusi dan perdebatan yang memakan waktu lama. Semua masuk kamar, belajar. Biasanya, kira-kira jam 12 malam, setelah lelah belajar, mereka mulai kembali terdengar bunyi-bunyian. Amir Sjarifudin melepaskan capek dengan menggesek biolanya, memainkan gubahan Schubert atau sonata yang sentimentil. Abu Hanifah mengambil biola, memainkan lagu yang sama. Suara biola bersahut-sahutan. Kemudian terdengarlah Muhammad Yamin berteriak, meminta Amir dan Abu diam. Yamin sedang dikejar deadline mengerjakan terjemahan Rabindranath Tagore untuk Balai Pustaka. Karena memang ingin menjahili, bukannya diam, Amir malah makin asyik menggesek biola, sehingga Yamin teriak-teriak. Amir dan Abu tertawa terpingkal-pingkal melihat temannya. (Usilnya para pemuda jaman dahulu)

Mengakali Polisi Belanda
Sabtu, 27 Oktober 1928 pada pukul 19.45 Soegondo Djojopoespito membuka Kongres Pemuda II. Yang ikut rapat pada saat itu bukan hanya pemuda saja, tetapi polisi belanda juga ikut di dalamnya untuk mengawasi langsung. Pada saat itu polisi Belanda protes karena peserta rapat menggunakan kata “Merdeka”, hal yang dilarang diucapkan saat itu.

Ada trik khusus yang dilakukan para pemuda agar rapat organisasi pemuda yang dianggap radikal oleh Belanda tidak dibubarkan paksa polisi. Suatu ketika, saat para pemuda hampir ditangkap polisi karena menggelar rapat terselubung, tapi akhirnya lolos. Saat polisi Belanda menggerebek tempat rapat, orang-orang yang awalnya rapat mendadak berubah menari-nari dan berdansa-dansa sambil diiringi musik dan gamelan yang ditirukan dari mulut. Begitulah beberapa contoh siasat yang dilakukan untuk mengakali polisi Belanda kala itu.

Baca Juga  Perdana Maitreyawira Fair 2016

Lagu Indonesia Raya Berkumandang Pertama Kali Tanpa Syair
Pada saat itu, 28 Oktober 1928, WR. Soepratman sang pencipta lagu menenteng biola mendekati pemimpin rapat Soegondo menyerahkan secarik kertas berisi syair lagu yang digubahnya. Karena banyak mengandung kata “merdeka” dan “Indonesia” di lirik lagu tersebut, maka Soegondo langsung melirik polisi Belanda. Soegondo sang pimpinan rapat merasa khawatir takut rapat bisa dibubarkan paksa bila lagu itu diperdengarkan lengkap dengan syairnya. Karena kata ‘Merdeka’ adalah paling dilarang saat itu. Akhirnya untuk menyiasati hal tersebut, WR. Soepratman disuruh memainkan lagu tersebut tanpa syair, hanya menggunakan biola saja.

Naskah Sumpah Pemuda Ditulis Satu
Sebagai sekretaris, Yamin yang saat rapat duduk di sebelah kiri ketua menyodorkan secarik kertas pada Soegondo sembari berbisik, “Saya punya rumusan resolusi yang elegan.” Soegondo lalu membaca usulan resolusi itu, memandang Yamin. Yamin tersenyum. Spontan Soegondo membubuhkan paraf “setuju.” Soegondo lalu meneruskan kertas ke Amir Sjarifudin. Dengan muka bertanya-tanya, Amir menatap Soegondo. Soegondo membalas dengan anggukan. Amir pun memberi paraf “setuju”. Begitu seterusnya sampai seluruh utusan organisasi pemuda menyatakan setuju.

Sejarawan Singkap Misteri Rekayasa Sumpah Pemuda
Setelah tudingan sejarawan Medan Erond Damanik yang ditujukan kepada Muhammad Yamin sebagai dalang pembelokan kata “Poetoesan congres” menjadi kata “Soempah”, kali ini datang opini dari sejarawan JJ. Rizal yang melemparkan tudingan itu kepada mantan Presiden Ir. Soekarno sebagai dalang pengubah teks tersebut pada situs berita Tempo.

Erond Damanik sebelumnya sudah mengatakan bahwa teks tersebut dirubah Yamin karena Yamin dan Soekarno saat itu sedang gencar-gencarnya membasmi gerakan separatisme di Indonesia. Sedangkan JJ.Rizal mengatakan “Sumpah pemuda itu produk tahun 1950-an,”. Ada benarnya juga kata Erond Damanik yang menyebutkan teks tersebut dirubah Yamin pada saat kongres bahasa Indonesia di Medan pada 1954 yang acara pembukaannya dihadiri oleh Soekarno.

“Jadi teks yang sekarang itu merupakan produk masa depan, terutama kata-kata ”satu” yang ada di tiap poin Sumpah Pemuda itu. Ini kepalsuan sejarah,” ujar Rizal. Produk masa depan yang dimaksud adalah ubahan kata yang dilakukan bertujuan untuk memperkuat posisi Soekarno yang sedang goyah waktu itu.

Rizal juga mengatakan bahwa sebenarnya naskah itu bukan sumpah, tapi sebuah deklarasi putusan kongres pemuda 1928. Pendapat Rizal ini sejalan dengan pendapat Erond yang mengatakan bahwa tahun 1928 itu para pemuda tidak bersumpah, tapi melakukan kongres dan putusan kongres tersebut yang dituangkan kedalam satu naskah. Naskah hasil/putusan kongres itu kemudian diubah Muhammad Yamin dan Soekarno pada kongres bahasa Indonesia di Medan tahun 1954.

Menurut Rizal, tanggal 28 Oktober sebelum Yamin dan Soekarno merubah teks putusan kongres menjadi sumpah pemuda, adalah tanggal untuk memperingati lagu Indonesia Raya, bukan sumpah pemuda.

About admin

Lihat Juga

Tujuh Kaligrafi Batam Lolos ke Final MTQ VII Kepri 2018

HANGTUAHNEWS.CO.ID, Batam – Seluruh kaligrafi dari kafilah Kota Batam yang berjumlah tujuh kaligrafi, lolos menuju final …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *