Home / EkBis / Pembangunan / Jadikan MEA Sebagai Momentum Membangun Peradaban Melayu Baru

Jadikan MEA Sebagai Momentum Membangun Peradaban Melayu Baru

HANGTUAHNEWS.CO.ID, BATAM – Beberapa hari menjelang di launching-nya MEA, atau yang disingkat dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN,  para pelaku dunia usaha di tanah air ini, mengaku masih belum punya pengetahuan yang cukup soal apa itu MEA. Sejumlah orang berusapaya mencari tahu lewatberbagai sumber, termasuk google. Namun hasilnya masih belum cukup.

Sejauh ini pemerintah belum memberi sikapnya, tentang begitu pentingnya MEA dikalangan pelaku bisnis di tanah air.  Pemerintah juga, belum memperlihatkan langkah seperti apa, dalam membangun sikap persaudaraan sesama negara ASEAN, bagi terujudnya hubungan dagang yang harmonis, dan saling pengertian.

Menurut laporan Harian Kompas (14/12), lebih dari 55% pelaku bisnis di tanah air, masih minim pengetahuannya tentang MEA.  Padahal dalam kerangka dagang MEA, persaingan akan terjadi demikian ketat, dalam setiap mata dagang.

Seperti yang dikutip Kompas, Direktur Kerja Sama Ekonomi ASEAN Kementerian Luar Negeri, Ina Hagniningtyas Krisnamurthi menyebutkan, sejumlah kendala masih menyelimuti terutama terkait dengan pemahaman soal ASEAN itu sendiri. Selain itu munculnya beberapa mata dagang baru, yang memerlukan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, terutama dalam konsistensi kebijakkannya.

“Kami di Sekretariat Nasional ASEAN, tak pernah memperhitungkan kemunulan Kemenko Kemaritiman, atau perubahan dari Kemenko Kesra menjadi Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan”, kata Ina mencontohkan, seperti yang dikutip Kompas.

Pergaulan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), yang diperkirakan lounchingnya pada 31 Desember 2015 ini, sebaik dicermati sebagai momentum untuk membangun peradaban Melayu baru, sesama negara ASEAN. Ini penting,  untuk memberi roh dan ikatan kebathinan yang mendalam, sesama negara Melayu dan sesama negara bekas koloni Eropa. Sebab tanpa harus begitu, maka dikhawatirkan pergaulan dagang sesama negara serumpun itu, lebih dilandasi rasa individulistis yang tinggi,  sehingga sasaran MEA mewujudkan kemakmuran sesama Negara serumpun itu, tidak terujud.

Lalu untuk mempermudah pergaulan sesama pelaku usaha di kalangan negara serumpun itu, maka sebaiknya bahasa Melayu ditetapkan sebagai bahasa resmi percakapan. Selain bahasa Melayu sebagai bahasa resmi, para Negara ASEAN yang tergabung dalam MEA itu juga,  sebaiknya mengadopsi mata uang baru (kalau enggan menggunakan mata uang Dinar), sebagai alat bayar resmi di kawasan MEA.  Ini samahalnya dengan Masyarakat Ekonomi Eropa menggunakan mata uang euro.

Tak usaha bicara Batam dan Kepulauan Riau (Kepri),  Indonesia saja saat ini, baru tiga pelaku usaha, yang sudah mempunyai standart kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) secara lengkap. Ketiga pelaku usaha itu adalah, tenaga Pariwisata, insinyur dan arsitek. Dari ketiga pelaku usaha ini, baru pelaku sektor pariwisata yang dinyatakan betul-betul siap, sesuai dengan standart ASEAN.  

Sementara untuk tenaga medis, seperti dokter dan bidan, hingga kini masih dinyatakan berproses sesuai dengan SKKNI, dengan mengadopsi kemampuan yang dimiliki tenaga medis dari Australia.  Hal ini terjadi juga dengan logistik.  Bidang ini, hingga kini masih terus dilakukan pembenahan untuk dapat diterima di pasar ASEAN.

Harian Kompas itu juga melaporkan,  dari tujuh sektor profesi berbasis produksi, seperti pekerja di bidang agro, kayu, karet, elektoronika, otomotif, perikanan dan tekstil, baru tiga yang sudah memenuhi standart SKKNI.  Ketiga bidang itu adalah, agro, perikanan dan tekstil. Sementara empat bidang lainnya,  saat ini masih dalam proses pembenahan SKKNI. Menurut laporan Kompas juga, Kondisi ini tidak saja dialami Indonesia,  namun sejumlah Negara ASEAN lainnya juga, menghadapi dilema yang sama.

Selain masalah SDM yang tidak kualified, pelaku usaha di negara ini juga, dirundung oleh berbagai masalah. Masalah itu antara lain, rendahnya penguasaan bahasa inggris oleh para pelaku usahanya, dan keterbatasan modal usaha. Padahal dari sisi kereatifitas usaha dan inovasinya, pelaku UKM di negara ini,  memiliki kemampuan yang cukup dibanggakan. Hanya saja, sejauh ini mereka menghadapi kendala modal dan pasar.   

Lalu sektor lain yang tak kalah penting dan tengah dalam perhatian pemerintah Indonesia saat ini adalah, logistik, sektor transportasi (darat, laut dan udara), serta sektor komunikasi dan impormatika.    Menurut laporan pemangku kewenangan di Negara ini, kesemua sektor ini,  tengah dalam pembenahan untuk mendapatkan sertifikasi SKKNI.

ASEAN Negara Serumpun

Dalam ruang lingkup kajian sejarah Melayu, sesungguhnya negara-negara yang tergabung dalam ASEAN, adalah bangsa serumpun yang bernama rumpun Melayu. Bangsa ini memiliki corak warna kulit yang sama, serta fostur tubuh, bahasa dan budaya yang sama pula dengan bangsa Indonesia.  Masyarakat di negera ASEAN ini juga, memiliki kemiripan nasibnya dan sepenanggungan yang sama, untuk lepas dari cengkraman imperialisme barat, seperti Portugis, Perancis dan Inggris serta Belanda.

Melihat sedikit kebelakang – dalam kajian Antropologi — bangsa Melayu berasal dari campuran dua bangsa, yakni Proto Melayu dan Deutero Melayu.  Proto Melayu adalah ras Mongoloid, yang diperkirakan bermigrasi sekitar 2.500 – 1.500 SM ke Asean. Ras Mongoloid ini berasal dari, Provinsi Yunnan di selatan China, New Guinea, atau Kepulauan Taiwan. 

Sedang Bangsa Deutero Melayu, berasal dari daratan Asia Tengah dan Selatan, sekitar 300 SM. Bangsa ini membawa serta budaya India. Sebenarnya manusia Melayu ini telah menjelajah separo bumi ini, yakni mulai dari wilayah samudera pasifik (Lautan Teduh) hingga ke lautan Hindia. Sedang penyebarannya, yakni dari pulau Krismas di Timur, hingga ke pulau Madagaskar di bagian baratnya.

Baca Juga  Hadapi MEA, Dokter Indonesia Perlu Tingkatkan Kualitas

Mentalitas watak orang Melayu adalah relegius, dan kurang menekankan pada materi,  adalah sisi yang menarik dari jiwa orang Melayu. Dari zaman nenek moyang orang melayu, sifat semacam ini adalah prinsif dasar mereka. Ini artinya, sifat semacam ini juga dimiliki oleh orang-orang Melayu yang ada dilima negara ASEAN, seperti, Thailand Selatan, Malaysia Barat dan Timur, Brunai Darussalam, Singapura, dan Filipina Selatan (Mindanao). Malah pada masa keemasan bangsa ini, para pelaut melayu menyebarluas keantero negeri, seperti ke Madagaskar di pantai Utara Afrika sampai Selandia Baru bagian Selatan, Kepulauan Paskah (Samudera Pasifik) di sebelah barat sampai Kepulauan Okinawa, Jepang bagian Timur.

Kalau saja semangat Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dilandasi dengan pandangan yang sama sebagai satu rumpun,  maka boleh jadi, segala macam kekurangan yang tengah dihadapi sejumlah Negara ASEAN akan teratasi. Masing-masing pelaku usaha dalam lingkup MEA, memandang rekannya sebagai saudara sekandung, dalam kerangka mewujudkan kehidupan sesame mereka, kearah yang lebih makmur.

Itu sebabnya, sebaiknya momen MEA ini,  dijadikan sebagai tonggak sejarah, bagi membangun peradaban Melayu baru di kawasan negara-negara ASEAN. Kesepahaman ini harus dibangun, guna menciptakan forum MEA yang lebih aktraktif, berbudaya, saling pengertian, saling membangun, relegius dan penuh keakraban dalam kerangka semangat persaudaraan.  

Sebab tanpa harus begitu,  maka dikhawatirkan forum MEA itu nantinya, akan bergerak seperti bola liar, yang masing-masing pelaku usahanya, bertindak progressif, individulistis dan kapitalis yang kejam. Alhasil, masing-masing suku bangsa, akan menjadikan kawasan lain, sebagai daerah koloni baru.  Kalau sudah begitu,  maka sulit bagi negara serumpun ini, bisa membantu perekonomian saudara mereka.   

Bahasa Melayu Sebagai Bahasa Pergaulan

Bertolak dari semangat persaudaraan serumpun itulah, maka ada baiknya pada Kepala Negara dan Pemerintahan masing-masing Negara ASEAN, membuat format baru untuk menyepakati penggunaan bahasa Melayu, sebagai bahasa resmi, atau bahasa pergaulan. Bahasa Melayu dapat juga disandingkan dengan bahasa Inggeris,  jika ternyata dominasi pelakuna, lebih banyak menguasai bahasa Inggeris.

Pentingnya penggunaan bahasa Melayu selain bahasa inggeris, sebagai bahasa resmi MEA, tak lain adalah, untuk menumbuhkembangkan semangat persaudaraan sesama negara serumpun. Sebagai sesama masyarakat dari rumpun yang sama, boleh jadi akan tercipta tatapergaulan yang disemangati oleh rasa toleransi yang relegius, dan tidak semata-mata mengutamakan materi.

Munculnya perasaan senasib dan sepenanggungan, sebagai bagian dari masyarakat negara serumpun, sangat membantu sekali terbinanya hubungan dagang yang saling menguntungkan.  Tak cuma menyangkut soal dagang, hubungan yang baik dan saling pengertian ini,  dapat membantu percepatan pengentasan kemiskinan, dimasing-masing Negara anggota MEA.

Menggunakan Mata Uang Dinar atau Mata Uang yang baru

Begitu juga dengan soal alat bayar dari di kawasan MEA.   Nyat Kadir berpandangan, bahwa orang Melayu lama,  telah memulai suatu kerangka ekonomi kolektif antar negara ASEAN dan dunia.  Ekonomi negara Asia Tenggara, dibangun oleh suku bangsa melayu, menjadi sebuah pusat unggulan ekonomi dunia. Berbagai potensi alam yang dimiliki orang-orang melayu, menjadi daya tarik bangsa China dan Eropa, untuk merajut dagangnya dengan suku Melayu.  Mereka bisa saling mengisi satu sama lain,  dalam kerangka bisnis antar suku bangsa. 

Hal senada dikatakan Mustafa Abubakar. Menurut Mustafa, kejayaan kerajaan-kerajaan  Melayu yang menguasai hampir sebagian besar ekonomi dunia, pada masa lampau, setahap demi setahap harus dijelmakan kembali. Era MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) saat ini, adalah momentum bagi merekat hubungan Melayu se Asean,  dengan mulai kembali menata ekonomi orang melayu, termasuk juga mengelola sumber alamnya.

Dengan populasi penduduk melebihi 400 juta jiwa, masyarakat Melayu dunia, memiliki potensi pasar global di Negara-negara Timur Tengah dan Afrika, yang berpenduduk mayoritas Islam. Hubungan yang telah terbina di masa lampau, yakni antara Sultan Iskandar Muda di Aceh,  dengan bangsa Inggeris, Perancis, Belanda dan Turki, mestinya dilakukan jejak recurent , bagi penguatan ekonomi masyarakat Melayu dunia.

Itu sebabnya, untuk mencapai keselerasan peniaga dalam kawasan MEA, maka para kepala Negara dan Pemerintahan, sebaiknya memiliki formula untuk menentukan mata uang di kawasan MEA sebagai alat bayar syah, seperti halnya masyarakat ekonomi Eropa dengan euronya. Negara Asean yang memiliki semagat relegius, dengan nuasa Islam, sebaiknya menyepakati penggunaan mata uang Dinnar, sebagai alat bayar.  Namun jika ini tidak mungkin, maka ada baiknya dibuat mata uang baru.

Sementara pemerhati Melayu asal Indonesia, Mahyudin Al Mudra, berpendapat, kemajuan ekonomi suatu bangsa, menurut ukuran orang Melayu, adalah suatu proses perkembangan  materi, etika dan moral kearah yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia. Ini berbeda dengan kemakmuran menurut dunia barat. Dunia Barat, memandang kemajuan hanya diukur dari sisi pertumbuhan materi dan kesejahteraan, meski mengabaikan nilai-nilai luhur mereka***

About admin

Lihat Juga

Walikota Batam Melirik Ruli untuk Memperluas Lahan Pasar Induk

HANGTUAHNEWS.CO.ID, Batam – Diperkirakan, saat ini luas lahan yang menjadi lokasi pasar Induk Jodoh tidak akan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *