Home / Daerah / Batam / Festival Batam Menari 2018, Menuai Rekor Muri Sekaligus Kritik

Festival Batam Menari 2018, Menuai Rekor Muri Sekaligus Kritik

HANGTUAHNEWS.CO.ID, Batam – Suksesnya BP Batam gelar Batam Menari 2018, sabtu dan Minggu, 7 – 8 April 2017 di Bundaran BP Batam, selain tuai rekor Muri penari terbanyak dari target 16.000 peserta menjadi 21.000 peserta tari, sekaligus tuai kritik dari ketua dewan kesenian propinsi Kepri, Husnizar Hood.

Adapun acara tersebut dimeriahkan oleh artis ibukota, antara lain Zaskia Gotik, Wali Band, Ivan Gunawan, Nino Garcia, Kinarya GSP, The Angels percussion. Hadir kepala BP Batam Lukita Dinarsyah Tuwo, ketua DPRD Kota Batam Nuryanto, SH, MH, Guruh Soekarno Putra, Menpan RB Asman Abnur, Mendagri, Menteri pariwisata, dinas pariwisata batam dan luar batam, perwakilan kedubes dari 5 negara ASEAN, 2 kedubes dari Amerika Serikat dan Australia, serta ratusan ribu warga Batam. Sayangnya saat itu walikota Batam H. Muhammad Rudi berhalangan hadir karena harus bertolak ke Surabaya untuk suatu urusan.

Dalam sambutannya, Lukita sangat berterima kasih atas semua pihak dan para tamu undangan serta warga batam yang mengapresiasi acara tersebut. Dengan julukan Batam Asyik dan Batam Fantastik, ia berharap target wisman ke Batam terutama mancanegara bisa meningkat dengan adanya kegiatan tersebut.

Tak ketinggalan Menpan RB, Asman Abnur memberikan masukan kepada pihak BP Batam apabila ingin Batam dikunjungi wisman mancanegara, Bandara Hang Nadim harus dibuka jalur penerbangan langsung dari luar negeri menuju Batam. Batam Menari 2018 dibuka dengan tabuhan kompang oleh pejabat yang hadir.

Dengan menampilkan tari rampai batam yang melibatkan 21.000 peserta tari mulai dari kalangan pelajar hingga dewasa, berhasil capai rekor Muri, dan ditutup dengan pembacaan deklarasi anti berita Hoax oleh para pejabat dan tamu undangan serta tampilan Wali Band.  Adapun acara tersebut meski tuai rekor Muri rupanya tak memuaskan hati ketua dewan kesenian propinsi Kepri, Husnizar Hood. Ia menyampaikan bahwa tari yang dilakukan di acara tersebut sama sekali tak menunjukkan estetika melayu dalam kaidah tarinya.

Adapun 3 poin utama yang ia sampaikan kepada Lukita dalam surat terbuka antara lain :

  1. Dalam video (youtube), tampak Batam Menari diambil dengan drone menggunakan musik ilustrasi karya orang lain, yang mana digunakan tanpa seizin dan otomatis melanggar UU hak cipta yang ia khawatirkan itu dibuat oleh tim produksi kegiatan tersebut.
  2. Ada tampilan karya “Rampak Melayu” juga menggunakan musik orang lain karya anak jati Kepri itupun digunakan tanpa seizin mereka.
  3. Di dalam kesenian melayu sebenarnya tak dikenal rampak, karena rampak itu bunyi-bunyian lebih kepada sunda dan bali itu berarti menurut Husnizar, kurator acara tersebut wawasannya agak memprihatinkan. Hal itu dijawab oleh Lukita, bahwasanya ia memohon maaf atas kekurangan tersebut dan sekiranya kedepannya ia meminta pihak-pihak yag faham dengan kesenian Melayu bisa ikut turun memberikan masukan sehingga tak terjadi lagi kesalahan yang sama.

(dianHP)

About Dian Ratnawati

Lihat Juga

Kesenian Berbagai Daerah Warnai Sosialisasi Pemilu 2019

HANGTUAHNEWS.CO.ID, Batam – Beragam kesenian ditampilkan dalam acara Pagelaran Seni dan Budaya dalam Rangka Menyambut Satu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *