Home / Internasional / Faktor Penyebab Donald Trump Menang dari Hillary Clinton

Faktor Penyebab Donald Trump Menang dari Hillary Clinton

HANGTUAHNEWS.CO.ID – Washington, DC – Kemenangan Donald Trump dalam pemilu presiden Amerika Serikat (AS) 2016 sangat mengejutkan dunia. Karena selama berbulan-bulan berlangsungnya masa kampanye nyaris seluruh lembaga survei menunjukkan, Hillary Clinton akan memimpin perolehan suara dan melenggang ke Gedung Putih. Banyak yang bertanya, sebenarnya apa yang menjadi faktor kemenangan Donald Trump sehingga sosoknya mampu meraih dukungan yang banyak dari rakyat Amerika Serikat. Padahal Donald Trump belum teruji, baik sebagai politisi mau pun birokrat. Sementara itu, fakta yang berbeda telah dimiliki oleh Hillary Clinton. Hillary Clinton adalah politisi kawakan yang pernah menduduki kursi pengacara, ibu negara, senat, dan menteri luar negeri Amerika Serikat, sebelum akhirnya diberi mandat oleh Partai Demokrat untuk maju sebagai calon presiden Amerika Serikat.

Donald Trump 01
Donald Trump

Bicara tentang skandal, kedua kandidat calon presiden Amerika Serikat ini sama-sama memiliki catatan tersendiri. Donald Trump digoyang oleh isu pelecehan seksual. Tidak hanya dengan satu perempuan, namun dikabarkan Donald Trump mempunyai skandal dengan sejumlah perempuan. Ia pun diduga menghindari pembayaran pajak selama bertahun-tahun. Sementara itu, Hillary Clinton juga tak luput diterpa oleh isu skandal email. Ia kedapatan telah menggunakan server email pribadi ketika menjabat sebagai menteri luar negeri Amerika Serikat. Kasus penggunaan server di email pribadi Hillary Clinton ini antiklimaks, namun memicu anggapan bahwa sosok Hillary Clinton adalah sosok yang ‘kebal’ terhadap hukum.

Jika seperti itu, kemudian apa saja yang menyebabkan Donald Trump berhasil memenangkan pemilu dan menjadi presiden terpilih Amerika Serikat yang ke-45? Berikut beberapa faktor yang menyebabkan kemenangan Donald Trump yang kami kutip dari Listverse.com, Kamis, (10/11/2016):

1. Trump Cerdas Memanfaatkan Media

Pada Agustus 2015, Listverse pernah menulis sebuah artikel berjudul “10 Reasons Donald Trump May Be A Political Genius”. Secara akurat, tulisan tersebut memuat prediksi kemenangan Trump, namun kebanyakan orang mementahkan laporan tersebut. Dari sekian banyak alasan tulisan itu dimuat, salah satu yang paling menonjol adalah kelihaian Trump memanfaatkan media. Hal tersebut tak mengejutkan mengingat ia memiliki latar belakang yang panjang dalam dunia pertelevisian dan hiburan.

Ia tahu persis harus menyampaikan apa untuk membuat penonton jengkel. Dan secara naluriah ia juga tahu bagaimana cara menarik perhatian mereka. Setiap kali lawannya mulai mendominasi pemberitaan, ia akan melemparkan granat retoris, membuat kamera kembali mengarah kepada dirinya. Trump memahami dengan baik sebuah pepatah lama, “bahwa tak ada publisitas yang buruk”. Dia tahu bahkan ketika para pengamat muncul di TV mengecam kebijakannya, namun para penonton akan setia mendengarkan retorika-retorikanya.

Memang faktanya, saat ini kebanyakan orang lebih mudah mengingat bahkan menjelaskan kebijakan Trump dibanding Hillary. Nyaris semua media menginginkan Trump ‘jatuh’, namun tanpa mereka sadari mereka telah membentuk Trump menjadi orang paling berkuasa di muka bumi.

2. Kejutan dari FBI

Berbagai jajak pendapat memenangkan Hillary Clinton dalam beberapa bulan terakhir. Bahkan pada pertengahan Oktober Hillary Clinton dapat memimpin 12 poin di atas Donald Trump. Jika pilpres dilangsungkan pada saat itu juga bukan tidak mungkin Hillary Clinton akan dinobatkan menjadi presiden ke45 AS. Namun kondisi berubah seketika setelah Direktur FBI, James Comey mengirimkan surat kepada Kongres pada tanggal 28 Oktober. James Comey mengatakan akan membuka kembali investigasi terkait skandal email Hillary yang sebelum sempat ditutup. Dan mendadak ‘bom’ meledak.

Baca Juga  Nasib Apple Setelah Trump Menjadi Presiden

Dukungan terhadap Hillary menurun. Meski belakangan Comey menegaskan, pihaknya telah ‘membersihkan’ nama Hillary Clinton dari skandal penggunaan server email tersebut, namun hal tersebut tidak banyak membantu Hillary Clinton. Ketika pemungutan suara dimulai bahkan namanya lekat dengan satu kata, kriminal.

3. Terlena Hasil Survei

Sejak pertengahan Juli 2016, hampir seluruh survei ‘memenangkan’ kubu Hillary Clinton. Bahkan ada prediksi bahwa Demokrat akan merebut kembali dominasi di dewan perwakilan dan senat. Hal ini disebut-sebut membuat Demokrat berada di atas angin. Hillary Clinton bahkan dikabarkan melewatkan kampanyenya di negara-negara ‘Blue State’ yaitu negara-negara pendukung Demokrat. Dia tak menghabiskan banyak waktu untuk berjuang di negara-negara kunci dan swing state serta menganggap semua wilayah itu sudah ‘dikantonginya’.

4. Haus Perubahan

Sejak akhir Perang Dunia II, hanya ada satu contoh di mana satu partai berhasil menguasai Gedung Putih selama tiga periode. Peristiwa tersebut terjadi ketika Presiden Ronald Reagan yang seorang Republikan dan menjabat selama dua periode digantikan oleh George H.W. Bush. Ini menjelaskan kondisi Hillary yang cukup sulit mengingat Demokrat melalui Barack Obama sudah menghuni Gedung Putih selama 8 tahun terakhir. Pemilih saat ini menginginkan dengan perubahan. Pemerintahan Obama memang mencatat sejumlah kemajuan signifikan, salah satunya pengangguran yang di bawah lima persen. Namun hal-hal baik bisa jadi memburuk. Simak saja bagaimana krisis perekonomian melanda AS pada 2008, memicu perasaan muak kepada pemerintah dan kalangan elite. Obama dinilai gagal membawa harapan dan perubahan yang menjadi slogannya pada musim kampanye.

5. Gelombang The Zeitgeist

Menariknya, sinyal pertama kemenangan Trump datang dari Inggris. Tepatnya pada 23 Juni, ketika publik di Britania Raya melaksanakan referendum dan hasil akhirnya memutuskan negara itu bercerai dari Uni Eropa (UE). “Brexit” atau British Exit secara jelas menunjukkan keunggulan kampanye Trump, yakni kemarahan kepada elite, kekhawatiran atas isu imigrasi, dan penegasan identitas warga kulit putih. Namun bukan peristiwa “Brexit” yang mendatangkan kemenangan tak terduga Trump, melainkan sebuah gerakan yang saat ini tengah ‘mengguncang’ sejumlah negara, The Zeitgeist, yakni sebuah gerakan yang mengkritik kapitalisme pasar.

2016 telah menjadi tahun bagi kelompok The Zeitgeist. Di Jerman, Partai Alternative for Germany yang dikenal dengan kebijakan anti-migrannya dilaporkan menang pemilu. Sementara di Filipina, Rodrigo Duterte yang melegalkan aksi main hakim sendiri kini menduduki jabatan sebagai orang nomor satu di negara tersebut. Partai populis-kiri di Islandia, Pirate berhasil meraih dukungan 25 persen dalam pemilu. Di Inggris, pemimpin oposisi adalah seorang pria yang menentang partainya sendiri. Dan pada tahun depan, Partai National Front Prancis diprediksikan akan memenangkan pemilu sementara itu di Jerman, sosok seperti Angela Merkel diramalkan akan ‘jatuh’. Trump dinilai hanya contoh kasus terbaru dari kemenangan gerakan ini.

(bersambung….)

Liputan : KhairisaFerida-L6
Editor : SW-Hangtuah

About Sri Wahyudi

Freelancer, Jurnalis, Editor dan Grafis Designer di Hang Tuah News dan Hang Tuah Pos.

Lihat Juga

Kemlu Serahkan 6 ABK Eks-Sandera di Benghazi ke Keluarga

HANGTUAHNEWS.CO.ID – Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi melakukan serah terima enam orang ABK yang menjadi korban …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *