Home / Nasional / Fakta-Fakta Tentang Ular Piton Sanca Batik Yang Mungkin Bisa Berguna di Kemudian Hari
Ular sanca batik sepanjang tujuh meter yang menelan Akbar (25) warga Desa Salubiro, Kecamatan Karossa, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulbar, sempat jadi tontonan warga di lokasi kejadian.

Fakta-Fakta Tentang Ular Piton Sanca Batik Yang Mungkin Bisa Berguna di Kemudian Hari

HANGTUAHNEWS.CO.ID – Ketika tanpa sadar berada di area ‘kekuasaan’ ular piton jenis kembang atau sanca batik, waspada dan lakukan beberapa hal ini karena nyawa taruhannya. Simak fakta-fakta ini, Jumat (31/3/2017).

Tewasnya petani sawit Desa Salubiro, Kecamatan Karossa, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat memicu kehebohan. Pasalnya Akbar (25), pria yang baru saja merasakan kebahagiaan dengan kehadiran buah hati justru bernasib tragis.

Pada Selasa (28/3/2017) petani yang berniat memanen sawit untuk bekal jemput istri dan anaknya yang baru lahir tewas ditelan bulat-bulat oleh sanca batik. Sanca batik dikenal melegenda karena ada beberapa hal yang tak dimiliki ular jenis lain.

Ular terbesar di dunia

Catatan Wikipedia misalnya, sanca batik adalah sejenis ular dari suku Pythonidae yang berukuran besar dan memiliki ukuran tubuh terpanjang di antara ular lain. Ukuran terbesarnya dikatakan dapat melebihi 8.5 meter dan merupakan ular terpanjang di dunia. Lebih panjang dari anakonda (Eunectes), ular terbesar dan terpanjang di Amerika Selatan.

Bergantung pada air

Sanca kembang hidup di hutan-hutan tropis yang lembap (Mattison, 1999). Ular ini bergantung pada ketersediaan air, sehingga kerap ditemui tidak jauh dari badan air seperti sungai, kolam dan rawa.

Makanan utama

Makanan utama sanca batik adalah mamalia kecil, burung dan reptilia lain seperti biawak. Ular yang kecil memangsa kodok, kadal dan ikan. Ular-ular berukuran besar dilaporkan memangsa anjing, monyet, babi hutan, rusa, bahkan manusia yang ‘tersesat’ ke tempatnya menunggu mangsa (Mattison 1999, Murphy and Henderson 1997, Shine et al. 1999). Ular ini lebih senang menunggu daripada aktif berburu, barangkali karena ukuran tubuhnya yang besar menghabiskan banyak energi.

Cara sanca batik melumpuhkan mangsa

Mangsa dilumpuhkan dengan melilitnya kuat-kuat (constricting) hingga mati kehabisan napas. Beberapa tulang di lingkar dada dan panggul mungkin patah karenanya. Kemudian setelah mati mangsa ditelan bulat-bulat mulai dari kepalanya.

Setelah makan besar lalu puasa puluhan bulan

Setelah makan, terutama setelah menelan mangsa yang besar, ular ini akan berpuasa beberapa hari hingga beberapa bulan hingga ia lapar kembali. Seekor sanca yang dipelihara di Regent’s Park pada tahun 1926 menolak untuk makan selama 23 bulan, namun setelah itu ia normal kembali (Murphy and Henderson 1997).

Cara menyelamatkan diri

Seperti dikutip dari Tribun Timur, ada dua benda yang terlihat sepele tetapi sangat berguna untuk terhindar dari serangan ular, menurut peneliti reptil dan amfibi dari Insitit Pertanian Bogor (IPB), Mirza D Kusrini. Benda tersebut adalah topi dan korek api.

Menggunakan topi rimba maupun topi tani saat berada di hutan bisa menyelamatkan nyawa dari serangan piton. Alasannya piton biasanya berada di atas pohon. Piton biasanya akan menjatuhkan diri dari pohon-pohon yang tinggi dan mengincar kepala terlebih dahulu sebelum melilit.

Mirza menambahkan penting juga saat berjalan untuk melihat ke atas, mewaspadai keberadaan piton. Selain topi jangan lupa siapkan korek api. Caranya dengan membuat api unggun di sekitar Anda, hal ini bisa mencegah datangnya hewan buas termasuk ular mendekat.

Jangan ganggu

Hal penting lainnya yakni jangan mengganggu. “Kalau menemukan piton, lebih baik mundur. Jangan malah diganggu,” ungkap Mirza. Menurutnya, ular pada umumnya merupakan hewan pemalu. Jika manusia menghindar, maka ular tidak akan mengejar seperti singa.

Jangan sendirian di hutan

Pakar ular dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Amir Hamidy, menjelaskan warga tidak perlu takut berlebihan. “Tak perlu takut, hanya saja perlu lebih waspada bila berhadapan atau masuk ke wilayah yang mungkin menjadi habitat sanca batik tersebut,” katanya.

“Cara menghadapinya, jangan sendiri kalau di hutan,” kata Amir , Kamis (30/3/2017). “Piton tidak mungkin di-handle 1-2 orang. Bau-bauan menyengat bisa menghindarkan ular, tetapi untuk ular besar saya ragu.”

Hindari rawa pohon besar dan pelihara anjing

Selain itu, Amir menyarankan menghindari rawa pohon besar sebab mungkin menjadi tempat persembunyian ular. Bagi warga yang sehari-hari tinggal di sekitar hutan, memelihara anjing adalah salah satu cara waspada. Anjing lebih peka dengan keberadaan ular sehingga bisa membantu manusia.

Namun sebenarnya, langkah paling penting untuk dilakukan adalah menjaga lingkungan. Saat ini, manusia dan ular sebenarnya menempati relung habitat yang berbeda. Jadi, kecil kemungkinan ular seperti piton masuk ke habitat manusia bila habitatnya tak diganggu.

Penting pula untuk tidak membunuh mangsa piton. Masing-masing makhluk hidup punya peran dalam habitatnya. Bila manusia membunuh mangsa piton, maka piton pun akan mencari alternatif. Akibatnya, manusia juga akhirnya yang bisa jadi korbannya. (tb)

About admin

Lihat Juga

REI Mega Expo 2018 Digelar Bersama IIMS 2018

HANGTUAHNEWS.CO.ID, Jakarta – Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia atau REI bekerjasama dengan Dyandra Promosindo untuk kedua kalinya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *