Home / Info Cerdas / 5 Fakta Menarik Soal Fenomena Equinox, Bahaya?
Ilustrasi matahari.

5 Fakta Menarik Soal Fenomena Equinox, Bahaya?

Fenomena Equinox akan sambangi Indonesia pada 21 Maret dan 23 September 2017. Menurut Kepala Humas BMKG Hary Djatmiko, Equinox adalah fenomena astronomi, yakni matahari melintas tepat di garis khatulistiwa.

Hary menegaskan, fenomena tersebut tak selalu mengakibatkan peningkatan suhu udara secara drastis, di mana rata-rata suhu maksimal di wilayah Indonesia bisa mencapai 32-36 derajat celsius.  “Equinox bukan merupakan fenomena seperti HeatWave di Afrika dan Timur Tengah yang dapat mengakibatkan peningkatan suhu udara secara besar dan bertahan lama,” kata Hary di Jakarta, Rabu (15/3).

Karenanya, BMKG mengimbau masyarakat untuk tak khawatir terkait dampak Equinox. “Masyarakat untuk tidak perlu mengkhawatirkan dampak dari Equinox sebagaimana disebutkan dalam isu yang berkembang,” tegasnya.

Ekuinoks adalah salah satu fenomena astronomi di mana Matahari melintasi garis khatulistiwa. Fenomena tersebut secara periodik berlangsung dua kali dalam setahun, yakni pada 21 Maret dan 23 September.

Fenomena ekuinox.

Tak hanya itu, ternyata fenomena tersebut mengandung sejumlah fakta lain. Berikut 5 fakta menarik tentang ekuinoks.

1. Terjadi 2 Kali dalam Setahun

Equinoks adalah salah satu fenomena astronomi di mana Matahari melintasi garis khatulistiwa. Secara periodik ekuinoks berlangsung dua kali dalam setahun, yakni sekitar tanggal 21 Maret dan 23 September.  Bagi wilayah di Belahan Bumi Utara ekuinoks yang terjadi pada Maret disebut sebagai Vernal (musim semi) Equinox. Sedangkan di Belahan Bumi Selatan disebut Autumnal Equinox.

2. Pertanda Musim Semi

Di Belahan Bumi Utara, astronom dan ilmuwan menggunakan ekuinoks yang terjadi pada Maret sebagai penanda dimulainya musim semi. Musim tersebut berakhir pada akhir titik balik Matahari pada Juni, yakni saat musim panas dimulai.

Sementara itu ahli meteorolgi menyebut musim semi di Belahan Bumi Utara berlangsung tiga minggu sebelum ekuinoks Maret berlangsung, yakni sekitar 1 Maret dan berakhir pada 31 Mei.

Berbeda dengan Belahan Bumi Utara, ekuinoks yang terjadi pada September disebut sebagai hari pertama musim semi di Belahan Bumi Selatan.

3. Panjang Waktu Siang dan Malam Sama?

Menurut pengetahuan konvensional, saat ekuinoks terjadi seluruh wilayah di Bumi akan mengalami siang dan malam dengan panjang waktu yang sama, dengan masing-masing waktu 12 jam.

Jika ditilik dari asal katanya, equinox berasal dari dua kata latin, yakni aequus yang berarti sama, dan nox yang berarti malam.

Namun berdasarkan realita, banyak tempat di Bumi lebih lama mengalami siang saat ekuinoks. Hal itu terjadi karena dua hal, yakni bagaimana Matahari terbit dan terbenam didefinisikan dan pembiasan atmosfer dari sinar Matahari.

4. Waktu Terbaik untuk Menyaksikan Aurora Borealis

Saat kita mulai memasuki ekuinoks September, kesempatan untuk melihat aurora borealis di Belahan Bumi Utara akan semakin besar.

Menurut NASA, ekuinoks merupakan prime time untuk menyaksikan cahaya utara itu. Hal tersebut disebabkan karena kegiatan geomagnetik akan terjadi dua kali lebih sering saat musim semi dan gugur, dibandingkan musim panas dan salju.

5. Dirayakan oleh Sejumlah Kebudayaan

Banyak kebudayaan di seluruh dunia merayakan festival untuk menandai ekuinoks yang terjadi pada Maret dan September.

Misalnya saja pada ekuinoks Maret, masyarakat di China melakukan tradisi menyeimbangkan telur, simbol kesuburan, agar mendapat peruntungan dan kesejahteraan.

Tradisi tersebut memicu mitos bahwa hanya pada ekuinoks Maret, telur dapat berdiri secara seimbang. Namun sebenarnya kita bisa menyeimbangkan telur pada hari-hari biasa, tidak harus menunggu saat ekuinoks terjadi. (lip6)

About admin

Lihat Juga

Proses Terjadinya Pelangi

Pelangi adalah fenomena alam yang berupa optik dan meteorologi yang memiliki warna-warni indah yang sejajar …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *